Sabtu, 05 Mei 2018

“Yellow Truck” Tarik Selera Generasi Mileneal



Devi Laras Wijayani / 175231116 / Perbankan Syariah / 2C

            Kopi merupakan zona nyaman remaja maupun dewasa untuk sekedar sruput satu pengganjal rasa ngantuk. Mereka biasa mengonsumsi kopi hitam cap expresso yang kental dan bisa tahan hingga berjam-jam. Aroma pahit menjadi ciri khas kopi tersebut sebagai  favorit yang jarang terlewatkan ketika nongkrong bareng. Mereka multibahasan, kadang membahas kehidupan atau makna dari pekerjaan mereka, atau malah sekedar iseng-iseng karena mereka ternyata pengangguran yang banyak gaya.
            Mereka bisa merogoh kantong walaupun bermodalkan lima ribu rupiah, hanya dengan harga kopi tiga ribu dan gorengan empat macam seharga lima ratusan. Mereka sudah menikmati pahitnya kopi tanpa gula dan enaknya gorengan dengan cap tiga rasa yaitu murah, enak, dan pedas karena gigitan cabai yang diambil secara gratisan. Suasana tersebut sudah menjadi hal lumrah masyarakat yang tinggal di akhir bulan, yaitu tanggal 30an dimana gaji sudah tidak ada di tangan.
            Akan tetapi, berbeda halnya bagi mereka masyarakat di tanggal muda yang setiap hari menerima gaji dari orang tua. Bagi remaja perempuan banyak yang menghabiskan waktu untuk berbelanja entah membeli pakaian atau santapan kuliner hingga keluar daerah mereka. Meskipun mereka merogoh kantong lima puluh ribupun rupiah masih lumrah, karena memang itu adalah uang jajan santapan mereka sehari-hari. Bahkan, dengan uang dapat mempermudah mereka mendapatkan pengalaman-pengalaman epik ala mereka.
            Metodologi Studi Islam secara klasik kini dimanfaatkan menjadi salah satu silabus yang harus dilampaui oleh setiap mahasiswa. Bagi mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah ngongkrong bareng dituntut untuk menjadi mahasiswa yang tidak kaku karena jarang keluar rumah selain kuliah. Mereka diminta untuk dapat berinteraksi kepada siapapun dengan sopan dan santun. Bahkan, secara tidak langsung silabus ini menjadi daya tarik, karena warung kopi atau cafe yang kami kunjungi merupakan tempat-tempat instagramable.
             Saya disuguhkan sebuah warung kopi yang sangat terkenal di daerah Solo, tempat ini bernama Yellow Truck Cafe Solo. Selain itu, tempat ini merupakan wahana berbincang serta potret atau bahkan hanya sekedar santai bagi kalangan remaja maupun dewasa. Tempat ini berada di Jalan Kebangkitan Nasional No. 35, Solo. Kesan pertama saya melihat tempat ini yaitu halaman depan cafe dipenuhi dengan parkiran mobil, sedangkan di sebelah timur bangunan dipakai sebagai parkiran motor dan pintu masuk, yang bangunannya adalah kuning.
            Ketika masuk ke pintu utama saya bersama kelima kawan saya dengan santainya masuk ke ruangan dalam cafe, dan langsung mencari tempat yang cocok untuk enam orang, serta tempat yang bagus untuk sport foto. Padahal, sebelum masuk ke ruangan dalam, kami seharusnya memesan makanan dan minuman terlebih dahulu melalui barista. Kemudian, setelah pemesanan dan pembayaran kami selesai dan diulangi menu yang kami pesan, baru masuk ke dalam dan menunggu menu diantarkan.
Suasana yang mahal di tempat ini menyajikan makanan dan minuman yang dibantrol dengan harga melangit. Tempat ini juga berada di pinggir jalan yang sangat strategis di pusat Kota Solo. Lokasinya berada di belakang sriwedari, di sebelah barat Restoran Boga Bogi Solo. Bangunannya bercatkan kuning karena nama tempat ini adalah Yellow Truck yang dijadikan sebagai warung kopi atau Cofe. Desain setiap ruangannya mahal dan cocok serta pantas dijadikan tempat nongkrong bagi kalangan remaja.
Ketika saya mengamati pengunjung yang berada di tempat ini, mereka kebanyakan adalah kaum laki-laki yang gemar nongkrong dan ngopi dengan aneka ragam rasa. Jenis kopi yang disajikan seperti expresso, expresso mocchiato, americano, cappucino, flovoured latte, piccalo, flat white, caramel mocchiato, spanish latte, mocha, affogato, dan masih banyak lagi. Sedangkan, snack yang ditawarkan di cafe ini seperti yellow platter, yellow truck french fries, yellow truck poutine, red souce potato, white souce potato, dan masih banyak lagi.
Di Yellow Truck saya dan kawan saya memesan red velvet latte, banana milk, mango smoothies, americano, caramel macchiato, latte, doughnut bites, bakpao goreng cokelat dan otak-otak. Diantara minuman diatas ada satu menu minuman yang menarik perhatian saya, yaitu expresso. Waktu itu saya bingung mau pesan minuman apa, kemudian saya pesan yang paling murah, karena harganya hanya lima belas ribu rupiah. Sedangkan, minuman lainnya harga berkisar dari dua puluh ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah.
Akan tetapi, setelah saya mengatakan “... tambah expresso satu.” Barista yang melayani kami kaget dan bertanya “Sebelumnya biasa minum expresso kak?” Karena memang efek yang muncul setelah minum expresso tidak lain akan susah tidur hingga berjam-jam. Kemudian, barista tersebut menawarkan beberapa cofe yang tidak mengandung efek samping terlalu berat, seperti late, moccacino, caramel macchiato. Sedangkan, americano hampir sama dengan expresso dengan rasa pahit yang ditambah dengan madu.
Setelah barista bertanya “Tambah apa lagi kak?” Kemudian saya menjawab “Sudah.” Dan ia membacakan kembali menu pesanan kami. Setelahnya, saya bertanya “Langsung dibayar apa nanti Kak?” Barista tersebut menjawab “Langsung sekarang Kak.” Ternyata proses pembayarannya bersamaan dengan waktu pemesanan. Kemudian, saya langsung mengambil dompet karena memang ketika memesan menu, tas saya ada di meja tempat saya duduk dan mengambil sejumlah uang yang sebagian dari teman saya dan langsung membayarkan.
Sebelum datang ke cafe tersebut hal utama yang perlu saya siapkan adalah uang yang lebih tidak hanya cukup. Karena harga seluruh menu makanan maupun minuman rata-rata perporsi hampir dua puluh ribuan. Sehingga, yang biasanya ke warung kopi hanya membawa dua puluh ribu sudah dapat segala macam makanan bahkan sudah bisa makan nasi dan pulang dengan perut kenyang. Di cafe ini saya harus mengeluarkan uang hampir tiga kali lipat dari biasanya demi bisa merasakan perbedaan kopi ala cafe dengan kopi biasa.
Setelah proses pembayaran selesai saya segera kembali ke tempat duduk menunggu barista mengantarkan menu yang kami pesan. Sedangkan, kawan saya yang lain sudah asyik berfoto tepat di dinding belakang tempat duduk saya dengan latar berwarna biru dan di atasnya terdapat tulisan “KOPI” yang sangat cocok sebagai sport foto kalangan pemuda masa kini yang suka share foto di instagram mereka. Melihat mereka saya dengan sibuknya menghitung uang yang harus mereka ganti karena harga kopi yang sangat mahal.
Beruntung saya pergi bersama kawan-kawan saya yang lumayan ramai, sehingga saya tidak keki karena ini adalah pertama kali saya masuk ke Yellow Truck. Setelahnya, iced cofe diantarkan oleh barista dan selang beberapa menit kemudian baru disajikan hot cofe, serta beberapa menit lagi baru barista mengantarkan tiga jenis makanan ringan yang kami pesan dengan porsi yang besar dan cocok disajikan untuk sekitar enam orang. Proses penyajiannya memang terbilang cukup lama mungkin karena pembuatan kopi yang tidak biasa.
Setelah barista menyajikan menu yang kami pesan, kami memang tidak langsung memakannya. Akan tetapi, kami memandangnya terlebih dahulu kemudian menunggu pesanan lain datang. Setelah pesanan yang diantarkan barista sudah lengkap, kemudian langkah selanjutnya tentu tidak menyantapnya secara langsung, akan tetapi kami memotretnya terlebih dahulu. Serta selfi bersama dengan manu makanan dan minuman yang kami pesan tadi. Baru setelah berfoto kami langsung menyantap satu persatu.
Penyajian cofe late dan caramel mocchiato hot melalui gelas dan cangkir kecil yang ditambahkan bungkusan gula pasir dan gula jawa bubuk. Sedangkan, penyajian americano dengan gelas panjang dan cangkir kecil berisikan madu. Ternyata memang americano seperti kopi kaget, ketika pertama kali satu sruput meminumnya kesan pertama yang terasa sangat pahit murni sebelum dicampur dengan madu. Akan tetapi, setelah dicampurkan dengan madu, ketika diminum memang masih terasa kopi hitam akan tetapi sudah terasa manis dan enak.
Sedangkan, untuk penyajian red velvet latte, banana milk, mango smoothies iced disajikan di gelas secara sederhana. Bukan blend melainkan minuman dicampurkan secara langsung dengan es. Berbeda dengan sebelumnya penyajian red velvet latte, banana milk, mango smoothies iced disajikan tanpa memberikan gula tambahan, karena minuman tersebut memiliki rasa yang sudah manis dan segar. Apalagi banana milk memiliki aroma yang enak yaitu buah pisang dan tekstur minuman yang lembut diminum.
Selain memesan minuman, kami juga memesan menu makanan yang sebenarnya hanya sekedar cemilan yang sehari-hari kami jumpai. Meskipun demikian, makanan tersebut dikemas dengan mahal dan memiliki rasa yang menurut saya kurang mahal. Pertama, kami memesan doughnut bites, bakpao goreng cokelat dan otak-otak. Mungkin, apabila lain kesempatan saya dapat kesini untuk yang kedua kali, saya akan memesan menu makanan otak-otak dan makanan lain yang terhindar dari tepung.
Kesan pertama yang saya dapatkan ketika menyantap doughnut bites dan bakpao goreng cokelat yaitu adonan berwarna terlalu matang, kemudian setelah menyantap teksurnya terasa keras dan rasanya kemanisan. Keduanya rasanya hampir sama, penasaran saya apakah tepung yang digunakan sebagai adonan hampir sama. Kemudian, saya juga penasaran apakah yang memasak menu makanan adalah barista. Akan tetapi, rasa otak-otak yang disajikan memang enak sehingga saya dan kawan-kawan saya segera menyantapnya.
 Kami menyantapnya dengan melihat foto-foto yang di take sebelumnya. Tapi sebelum saya menyantap otak-otak pesanan saya, karena saya masih sibuk melihat bill pembayaran menu makanan yang saya beli sudah hampir habis. Terpaksa saya hanya makan sedikit, sedangkan doughnut bites dan bakpao goreng cokelat masih banyak dan kebanyakan hanya menyantapnya sekali, bentuk dari doughnut bites seperti cetakan tetapi terlalu padat sehingga terstur setelah digoreng juga padat.
Sedangkan, bakpao goreng cokelat berbentuk bulat sedangkan di dalamnya terdapat coklat. Rasanya manis keterlaluan, mungkin itu adalah khas sini penyeimbang rasa kopi yang pahit sehingga disajikan makanan yang manis. Alhasil, doughnut bites dan bakpao goreng cokelat tidak kami habiskan. Karena, memang sebelumnya kami sudah kuliner ke OCM Solo Grand Mall sehingga hanya selang satu jam saja perut kami masih sangat kenyang untuk menghabiskan walaupun hanya makanan ringan di Yellow Truck Cofe Solo.
 Yellow Truck walaupun warung kopi akan tetapi juga tidak dapat membatasi seorang muslim untuk sekedar nongkrong bareng di tempat ini. Meskipun, ketika saya masuk ke dalam bagian out door ada beberapa kalangan sekitar umur dua puluh tahunan sedang nongkrong dan merokok sambil ngopi. Akan tetapi, di bagian dalam ruangannya sangat nyaman dan tidak menutup kemungkinan seorang muslim untuk sekedar kuliner merasakan ragam kopi yang ada di Yellow Truck.
Selain anak muda di kalangan Solo, saya menjumpai ada tiga bule yaitu satu perempuan dan dua orang laki-laki yang usianya mungkin sudah tidak remaja lagi. Mereka menengok ke arah kami, karena kebetulan kami memilih tempat duduk di bagian timur dan mereka duduk tepat di sebelah barat kami. Dan, kata salah satu kawan saya yang menghadap mereka, rupanya wanita tersebut sedang memotret kami. Kami menyimpulkan memang Yellow Truck memang tempat ngopi kalangan elite seperti yang saya ceritakan di atas.
Generasi milenial yang suka dengan kuliner dan instagramable patut mengunjungi cafe ini. Meskipun, hanya sekedar mencoba karena sekalipun kita belum pernah mencoba, selama itu kita tidak bisa bercerita. Cafe ini cocok dijadikan tempat nongkrong dan ngopi untuk remaja muslim yang bosan dengan rutinitas dan ingin bersantai. Mahasiswa generasi mileneal cocok menjadikan tempat ini menjadi sasaran kuliner selanjutnya setelah seharian lelah akan tugas ataupun pekerja yang hendak bersantai dan mempunyai bugdet yang besar.