Devi Laras Wijayani / 175231116 /
Perbankan Syariah / 2C
Kopi merupakan zona
nyaman remaja maupun dewasa untuk sekedar sruput satu pengganjal rasa ngantuk.
Mereka biasa mengonsumsi kopi hitam cap expresso yang kental dan bisa tahan
hingga berjam-jam. Aroma pahit menjadi ciri khas kopi tersebut sebagai favorit yang jarang terlewatkan ketika nongkrong
bareng. Mereka multibahasan, kadang membahas kehidupan atau makna dari
pekerjaan mereka, atau malah sekedar iseng-iseng karena mereka ternyata
pengangguran yang banyak gaya.
Mereka
bisa merogoh kantong walaupun bermodalkan lima ribu rupiah, hanya dengan harga
kopi tiga ribu dan gorengan empat macam seharga lima ratusan. Mereka sudah
menikmati pahitnya kopi tanpa gula dan enaknya gorengan dengan cap tiga rasa
yaitu murah, enak, dan pedas karena gigitan cabai yang diambil secara gratisan.
Suasana tersebut sudah menjadi hal lumrah masyarakat yang tinggal di akhir
bulan, yaitu tanggal 30an dimana gaji sudah tidak ada di tangan.
Akan
tetapi, berbeda halnya bagi mereka masyarakat di tanggal muda yang setiap hari
menerima gaji dari orang tua. Bagi remaja perempuan banyak yang menghabiskan
waktu untuk berbelanja entah membeli pakaian atau santapan kuliner hingga
keluar daerah mereka. Meskipun mereka merogoh kantong lima puluh ribupun rupiah
masih lumrah, karena memang itu adalah uang jajan santapan mereka sehari-hari.
Bahkan, dengan uang dapat mempermudah mereka mendapatkan pengalaman-pengalaman epik ala mereka.
Metodologi
Studi Islam secara klasik kini dimanfaatkan menjadi salah satu silabus yang
harus dilampaui oleh setiap mahasiswa. Bagi mereka yang jarang atau bahkan
tidak pernah ngongkrong bareng
dituntut untuk menjadi mahasiswa yang tidak kaku karena jarang keluar rumah
selain kuliah. Mereka diminta untuk dapat berinteraksi kepada siapapun dengan
sopan dan santun. Bahkan, secara tidak langsung silabus ini menjadi daya tarik,
karena warung kopi atau cafe yang kami kunjungi merupakan tempat-tempat instagramable.
Saya disuguhkan sebuah warung kopi yang sangat
terkenal di daerah Solo, tempat ini bernama Yellow Truck Cafe Solo. Selain itu,
tempat ini merupakan wahana berbincang serta potret atau bahkan hanya sekedar
santai bagi kalangan remaja maupun dewasa. Tempat ini berada di Jalan
Kebangkitan Nasional No. 35, Solo. Kesan pertama saya melihat tempat ini yaitu
halaman depan cafe dipenuhi dengan parkiran mobil, sedangkan di sebelah timur
bangunan dipakai sebagai parkiran motor dan pintu masuk, yang bangunannya
adalah kuning.
Ketika
masuk ke pintu utama saya bersama kelima kawan saya dengan santainya masuk ke ruangan
dalam cafe, dan langsung mencari tempat yang cocok untuk enam orang, serta
tempat yang bagus untuk sport foto. Padahal, sebelum masuk ke ruangan dalam, kami
seharusnya memesan makanan dan minuman terlebih dahulu melalui barista. Kemudian,
setelah pemesanan dan pembayaran kami selesai dan diulangi menu yang kami
pesan, baru masuk ke dalam dan menunggu menu diantarkan.
Suasana yang mahal di
tempat ini menyajikan makanan dan minuman yang dibantrol dengan harga melangit.
Tempat ini juga berada di pinggir jalan yang sangat strategis di pusat Kota Solo.
Lokasinya berada di belakang sriwedari, di sebelah barat Restoran Boga Bogi Solo.
Bangunannya bercatkan kuning karena nama tempat ini adalah Yellow Truck yang
dijadikan sebagai warung kopi atau Cofe. Desain setiap ruangannya mahal dan
cocok serta pantas dijadikan tempat nongkrong bagi kalangan remaja.
Ketika saya mengamati
pengunjung yang berada di tempat ini, mereka kebanyakan adalah kaum laki-laki
yang gemar nongkrong dan ngopi dengan
aneka ragam rasa. Jenis kopi yang disajikan seperti expresso, expresso mocchiato,
americano, cappucino, flovoured latte,
piccalo, flat white, caramel mocchiato,
spanish latte, mocha, affogato, dan
masih banyak lagi. Sedangkan, snack yang
ditawarkan di cafe ini seperti yellow platter, yellow truck french fries, yellow
truck poutine, red souce potato, white souce potato, dan masih banyak
lagi.
Di Yellow Truck saya
dan kawan saya memesan red velvet latte,
banana milk, mango smoothies, americano,
caramel macchiato, latte, doughnut bites, bakpao goreng cokelat dan otak-otak. Diantara
minuman diatas ada satu menu minuman yang menarik perhatian saya, yaitu expresso. Waktu itu saya bingung mau pesan
minuman apa, kemudian saya pesan yang paling murah, karena harganya hanya lima
belas ribu rupiah. Sedangkan, minuman lainnya harga berkisar dari dua puluh
ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah.
Akan tetapi, setelah
saya mengatakan “... tambah expresso
satu.” Barista yang melayani kami kaget dan bertanya “Sebelumnya biasa minum expresso kak?” Karena memang efek yang
muncul setelah minum expresso tidak
lain akan susah tidur hingga berjam-jam. Kemudian, barista tersebut menawarkan
beberapa cofe yang tidak mengandung
efek samping terlalu berat, seperti late,
moccacino, caramel macchiato. Sedangkan, americano hampir sama dengan expresso dengan rasa pahit yang ditambah
dengan madu.
Setelah barista
bertanya “Tambah apa lagi kak?” Kemudian saya menjawab “Sudah.” Dan ia
membacakan kembali menu pesanan kami. Setelahnya, saya bertanya “Langsung
dibayar apa nanti Kak?” Barista tersebut menjawab “Langsung sekarang Kak.” Ternyata
proses pembayarannya bersamaan dengan waktu pemesanan. Kemudian, saya langsung
mengambil dompet karena memang ketika memesan menu, tas saya ada di meja tempat
saya duduk dan mengambil sejumlah uang yang sebagian dari teman saya dan langsung
membayarkan.
Sebelum datang ke cafe tersebut hal utama yang perlu saya
siapkan adalah uang yang lebih tidak hanya cukup. Karena harga seluruh menu
makanan maupun minuman rata-rata perporsi hampir dua puluh ribuan. Sehingga,
yang biasanya ke warung kopi hanya membawa dua puluh ribu sudah dapat segala
macam makanan bahkan sudah bisa makan nasi dan pulang dengan perut kenyang. Di cafe ini saya harus mengeluarkan uang
hampir tiga kali lipat dari biasanya demi bisa merasakan perbedaan kopi ala cafe dengan kopi biasa.
Setelah proses
pembayaran selesai saya segera kembali ke tempat duduk menunggu barista
mengantarkan menu yang kami pesan. Sedangkan, kawan saya yang lain sudah asyik berfoto tepat di dinding belakang tempat
duduk saya dengan latar berwarna biru dan di atasnya terdapat tulisan “KOPI”
yang sangat cocok sebagai sport foto
kalangan pemuda masa kini yang suka share
foto di instagram mereka. Melihat
mereka saya dengan sibuknya menghitung uang yang harus mereka ganti karena
harga kopi yang sangat mahal.
Beruntung saya pergi
bersama kawan-kawan saya yang lumayan ramai, sehingga saya tidak keki karena ini adalah pertama kali saya
masuk ke Yellow Truck. Setelahnya, iced
cofe diantarkan oleh barista dan selang beberapa menit kemudian baru
disajikan hot cofe, serta beberapa
menit lagi baru barista mengantarkan tiga jenis makanan ringan yang kami pesan
dengan porsi yang besar dan cocok disajikan untuk sekitar enam orang. Proses
penyajiannya memang terbilang cukup lama mungkin karena pembuatan kopi yang
tidak biasa.
Setelah barista menyajikan
menu yang kami pesan, kami memang tidak langsung memakannya. Akan tetapi, kami
memandangnya terlebih dahulu kemudian menunggu pesanan lain datang. Setelah
pesanan yang diantarkan barista sudah lengkap, kemudian langkah selanjutnya
tentu tidak menyantapnya secara langsung, akan tetapi kami memotretnya terlebih
dahulu. Serta selfi bersama dengan
manu makanan dan minuman yang kami pesan tadi. Baru setelah berfoto kami
langsung menyantap satu persatu.
Penyajian cofe late dan caramel mocchiato hot melalui gelas dan cangkir kecil yang
ditambahkan bungkusan gula pasir dan gula jawa bubuk. Sedangkan, penyajian americano dengan gelas panjang dan
cangkir kecil berisikan madu. Ternyata memang americano seperti kopi kaget, ketika pertama kali satu sruput meminumnya
kesan pertama yang terasa sangat pahit murni sebelum dicampur dengan madu. Akan
tetapi, setelah dicampurkan dengan madu, ketika diminum memang masih terasa
kopi hitam akan tetapi sudah terasa manis dan enak.
Sedangkan, untuk
penyajian red velvet latte, banana milk, mango smoothies iced disajikan
di gelas secara sederhana. Bukan blend
melainkan minuman dicampurkan secara langsung dengan es. Berbeda dengan
sebelumnya penyajian red velvet latte,
banana milk, mango smoothies iced disajikan
tanpa memberikan gula tambahan, karena minuman tersebut memiliki rasa yang
sudah manis dan segar. Apalagi banana milk memiliki aroma yang enak yaitu buah
pisang dan tekstur minuman yang lembut diminum.
Selain memesan minuman,
kami juga memesan menu makanan yang sebenarnya hanya sekedar cemilan yang
sehari-hari kami jumpai. Meskipun demikian, makanan tersebut dikemas dengan
mahal dan memiliki rasa yang menurut saya kurang mahal. Pertama, kami memesan doughnut bites, bakpao goreng cokelat
dan otak-otak. Mungkin, apabila lain kesempatan saya dapat kesini untuk yang
kedua kali, saya akan memesan menu makanan otak-otak dan makanan lain yang
terhindar dari tepung.
Kesan pertama yang saya
dapatkan ketika menyantap doughnut bites
dan bakpao goreng cokelat yaitu adonan berwarna terlalu matang, kemudian
setelah menyantap teksurnya terasa keras dan rasanya kemanisan. Keduanya rasanya
hampir sama, penasaran saya apakah tepung yang digunakan sebagai adonan hampir
sama. Kemudian, saya juga penasaran apakah yang memasak menu makanan adalah
barista. Akan tetapi, rasa otak-otak yang disajikan memang enak sehingga saya
dan kawan-kawan saya segera menyantapnya.
Kami menyantapnya dengan melihat foto-foto
yang di take sebelumnya. Tapi sebelum
saya menyantap otak-otak pesanan saya, karena saya masih sibuk melihat bill pembayaran menu makanan yang saya
beli sudah hampir habis. Terpaksa saya hanya makan sedikit, sedangkan doughnut bites dan bakpao goreng cokelat
masih banyak dan kebanyakan hanya menyantapnya sekali, bentuk dari doughnut bites seperti cetakan tetapi
terlalu padat sehingga terstur setelah digoreng juga padat.
Sedangkan, bakpao
goreng cokelat berbentuk bulat sedangkan di dalamnya terdapat coklat. Rasanya
manis keterlaluan, mungkin itu adalah khas sini penyeimbang rasa kopi yang
pahit sehingga disajikan makanan yang manis. Alhasil, doughnut bites dan bakpao goreng cokelat tidak kami habiskan.
Karena, memang sebelumnya kami sudah kuliner ke OCM Solo Grand Mall sehingga
hanya selang satu jam saja perut kami masih sangat kenyang untuk menghabiskan walaupun
hanya makanan ringan di Yellow Truck Cofe Solo.
Yellow Truck walaupun warung kopi akan tetapi
juga tidak dapat membatasi seorang muslim untuk sekedar nongkrong bareng di tempat ini. Meskipun, ketika saya masuk ke
dalam bagian out door ada beberapa
kalangan sekitar umur dua puluh tahunan sedang nongkrong dan merokok sambil ngopi. Akan tetapi, di bagian dalam
ruangannya sangat nyaman dan tidak menutup kemungkinan seorang muslim untuk
sekedar kuliner merasakan ragam kopi yang ada di Yellow Truck.
Selain anak muda di
kalangan Solo, saya menjumpai ada tiga bule
yaitu satu perempuan dan dua orang laki-laki yang usianya mungkin sudah
tidak remaja lagi. Mereka menengok ke arah kami, karena kebetulan kami memilih
tempat duduk di bagian timur dan mereka duduk tepat di sebelah barat kami. Dan,
kata salah satu kawan saya yang menghadap mereka, rupanya wanita tersebut
sedang memotret kami. Kami menyimpulkan memang Yellow Truck memang tempat ngopi kalangan elite seperti yang saya ceritakan di atas.
Generasi milenial yang
suka dengan kuliner dan instagramable
patut mengunjungi cafe ini. Meskipun,
hanya sekedar mencoba karena sekalipun kita belum pernah mencoba, selama itu kita
tidak bisa bercerita. Cafe ini cocok
dijadikan tempat nongkrong dan ngopi untuk
remaja muslim yang bosan dengan rutinitas dan ingin bersantai. Mahasiswa
generasi mileneal cocok menjadikan tempat ini menjadi sasaran kuliner
selanjutnya setelah seharian lelah akan tugas ataupun pekerja yang hendak
bersantai dan mempunyai bugdet yang
besar.


