Senin, 13 Maret 2017

Segumpal Rindu Untukmu

            Sore itu aku menemukan sebuah cahaya baru dibenakku ketika aku sedang singgah di pinggir sebuah kota, aku mengikuti cahaya itu secara perlahan, mengendap – endap karena aku takut semua itu tiba – tiba menghilang. Tetapi, beberapa waktu kemudian keheningan menyelimuti, tiada lagi suara endapan telapak kakiku, entah apa yang sedang ada difikiranku saat itu. Lalu, aku duduk dan ku sangga kepalaku dengan satu telapak tanganku memandangi hijaunya apa yang ada di depan mataku. Seyogyanya umat manusia berbahagia serta merta bersuka ria menyambut tahun baru yang hanya tinggal menghitung separuh putaran jam, tetapi jiwaku memilih tempat lain yang begitu sunyi. Aku memilih melangkahkan kaki ini ke suatu tempat yang jauh dari keramaian.
Aku duduk dibangku buatan petani dipinggir sawah di pojok kota. Ku pejamkan kedua mataku dan ku panjatkan doa sembari menikmati hembusan angin menusuk – nusuk rongga dadaku. Aku ingat lagi harapan – harapanku yang belum tercapai dan ku ingat – ingat kembali apa – apa yang belum sempat aku ucapkan padanya, hingga sampai akhirnya ku menempati waktu di sisa ruang penghujung tahun ini. Masih terasa asa yang pernah aku simpan dalam – dalam sejak pertama kali aku dan dirinya bertemu.
            “Aduh...” tiba – tiba daguku terlepas dari sanggahan kepalaku. Rupanya aku terlalu dalam melamunkan hal itu.
            Waktu menunjukkan pukul lima sore, semakin jelas khayal ini akupun berhenti beralih mendengarkan kicauan serta melihat burung – burung mengepakkan sayapnya menari diatas awan, seakan ikut serta menyambut malam tahun baru. Langit sudah mulai berubah menjadi keemasan, senja mulai menyapa. Namun, ragaku masih saja berdiam sendiri. Entah apa yang akan aku lakukan dan bersama siapa masih belum terfikir dibenakku untuk merayakan malam tahun baru. Yang aku siapkan ketika hendak menuju pergantian tahun adalah doa – doa yang akan aku panjatkan kepada Tuhan.
            Ketika senja tiba aku melihatinya dengan seksama, kemudian aku mencoba meraih dan menggenggamnya dan teringatkanlah aku padamu. Padamu jua aku menggenggam senja yang terik ini, indah seperti lokan, sekejap terlihat menyakitkan. Hendak pergi, namun aku berhasil menyimpannya. Tanpa basa – basi lagi aku beranjak pergi menyusur. Tetapi, anehnya ketika aku menoreh di belakangku banyak orang yang hendak mengirimkan senja kepadaku sembari mengangkat tangannya dan berlari – lari kecil. Adakalanya aku berbalik menoreh, tetapi yang menjadi tujuanku saat ini adalah kau. Aku ingin memberikan segenggam senja ini untukmu secepatnya yang di dalamnya terdapat kisah, kisah lama yang jika boleh kau mengijinkan kepadaku akan selalu aku kenang.
Aku mengambil senja ini berawal dari jatuh cinta padamu, ketika kamu menuruni tangga sekolah dan aku berada dibawah. Namun, nyatanya kamu tak melihatku dan aku terus mencoba untuk tersenyum agar kau sedikit peduli. Lalu, aku mencoba untuk menanyai tentang kabarmu lewat temanmu, karena aku tahu kau tak akan pernah menjawab pertanyaan bodoh ini. Kemudian aku mencoba mengetahui keseharianmu, sebab aku mengerti sulitnya untuk mengajakmu pergi. Tepat tiga tahun ini aku mengagumimu. Aku ingat kembali masih ada apa – apa yang belum sempat aku ucapkan padamu, gadis yang jelita. Entah karena aku tak cukup banyak punya nyali atau aku takut bila kau semakin menjauhiku.
            Terimalah segenggam senja ini, karena aku yakin bukan kesedihan yang akan kau dapat. Kau hanya akan mengerti kisah hidupmu, dibelakangmu masih ada seorang pria yang akan selalu menolongmu ketika kamu merasa kesulitan, akan senantiasa membuat raut wajahmu bersinar pernuh gembira, akan mengobati luka walaupun tak seutuhnya. Ku harap kau berdamai dengan rasa ini, aku hanya ingin kau tau. Bahwa kau jangan bersedih jikalau ada seorang pria yang membuatmu bersedih. Ada aku di belakangmu yang selalu ada untukmu.
Aku memberikanmu segenggam senja ini di dalamnya juga terdapat rindu. Segumpal rindu yang terselip dalam kisah lama, mencuri sela – sela di ruang itu. Mencoba mengobati rindu ini sendiri agar tak terlalu sakit terasa. Dan apabila senja itu pergi mengikuti kisah lama, rindu pasti akan tetap tinggal. Dan apabila kau juga memiliki rasa rindu untukku, jangan kau simpan sendiri. Katakanlah kepadaku, datanglah kemari, jangan takut karena aku adalah rumah yang selalu membuka pintu untuk gadis sepertimu.
Di dalam rindu itu terselip rasa cinta, rasa kasih sayang. Apabila kau tau percaya, coba kau rombak apa yang terselip dalam cinta. Disana ada nadiku, detak jantungku, namamu. Jantungku terus berdebar kencang setiap kali aku berada di dekatmu. Terlebih ketika kau memandangku walaupun hanya seiring hempasan angin. Akan tetapi, ada kalanya aku berterima kasih kepada angin. Karenanya nadi, jantung, cinta, kasih sayang dan rindu sampai kepadamu jua melalui segenggam senja yang terbungkus amplop warna kemerah – merahan. Yang melambangkan hati yang telah terpenuhi oleh cinta padamu. Namun terdapat gambar separuh hati disana, apabila kau menyambungkan dengan melukis separuh hatinya. Itu tandanya kau mau untuk menemaniku menghabiskan sisa tahun ini bersamaku.
Aku hendak membawamu kesuatu tempat yang menawan. Ku yakin kau akan senang, walaupun sesekali kau harus mengatakan bahawa.
“Kenapa kita harus melewati tempat ini? Apakah tiada jalan lain yang lebih baik!” dan tentu saja akan aku jawab.
"Tentu saja tidak.” Agar sesekali membuatmu penasaran.
Aku hendak membawamu pergi, dengan menapaki mungkin beribu rintangan yang menghadang, meskipun harus melewati sebuah gudang mengerikan, membawamu menyusuri terowongan, bertemu dengan para pekerja lemburan di suatu pabrik, hingga kita berada dibawah jembatan yang aroma sekitarnya berbau busuk, harus melewati genangan air dengan lumpur di beberapa bagian. Namun, percayalah padaku, aku tak akan mengecewakanmu. Ketika telah sampai kau langsung akan melihat tempat yang indah, yang banyak dikunjungi orang – orang dengan suara yang begitu bising akan tetapi bercampur aduk dengan kebahagiaan, ditambah aku yakin kau pasti akan senang dengan adanya kembang api yang menghiasi awan yang redup dibawah bintang – bintang. Lalu, kulihat kembali rona wajahmu yang ayu dan lugu. Rupanya kau telah memandangiku dan tersenyum simpul kepadaku dan sungguh, senyumanmu sungguh mengobati segumpal rinduku yang dulu kusimpan baik – baik untukmu.

By :
Devi Laras W.
Surakarta, 2016.