Selasa, 21 November 2017

Budaya Islam Jawa Menjadi Mayoritas Penduduk Sekitar Keraton Kartasura



Devi Laras Wijayani / Perbankan Syariah 1C / 175231116

            Sekumpulan tulisan dalam lembar ini bertujuan untuk menggali bagaimanakah kehidupan dalam konteks sejarah islam yang berada di sekitar bekas Keraton Kartasura, yang tentunya wilayah ini masih menerapkan trah-trah jawa, baik dari masyarakat maupun karena masih dalam lingkup keraton. Masjid Istiqomah merupakan salah satu masjid yang terletak di sebelah barat makam Keraton Kartasura, letaknya sangat strategis apabila di bandingkan dengan masjid-masjid lain yang berada di sekitar keraton, misalnya Masjid Hastana yang lokasinya terlalu masuk ke dalam permukiman warga.
Jika kita menelik lagi tentang sejarah Masjid Istiqomah, masjid ini berkaitan dengan banyak hal. Bapak Mail (narasumber) sebagai Takmir Masjid Istiqomah merupakan anak dari Bapak Haji Toyib Salim atau kerap disapa dengan nama Mbah Toyib, yang membeli tanah di wilayah tersebut untuk mendirikan Masjid Istiqomah. Dan Bapak Tentrem (narasumber) sebagai muadzin Masjid Istiqomah. Beliau-beliau ini merupakan tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan masjid.

KONDISI FISIK MASJID
            Masjid Istiqomah jika dilihat secara fisik memang belum selesai direnovasi atau masih dalam tahap pembangunan, bahkan masih ada bangunan-bangunan yang berupa tiang, berupa semen yang belum diratakan. Akan tetapi, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini, maupun masyarakat yang partisipasi dalam kegiatan tersebut tidak terbilang sedikit, ada pula masyarakat yang berasal dari luar daerah yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak sedikit pula yang memberikan infak lebih, dimana dana infak tersebut biasanya diputar untuk proses membangun masjid.

KEUNIKAN YANG SELALU MENJADI DAYA TARIK
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Istiqomah merupakan kegiatan rutin serta menjadi daya tarik tersendiri oleh masyarakat yang ada hampir diadakan setiap malam. Kegiatan-kegiatan tersebut tujuannya tidak lain senantiasa untuk menanam saham akhirat dengan ajaran-ajaran masih mengangkat kebudayaan Jawa, dan yang kebetulan wilayah masjid ini berdekatan atau masih dalam satu lingkup dengan bekas keraton sehingga masih ada trah-trah dari leluhur yang menggunakan budaya islam pada kehidupan sehari-hari.

TAHUN 1973
Dahulu sebelum didirikan masjid, lokasi ini merupakan kebun bambu dengan kebiasaan warganya menjadikan tempat ini sebagai tempat maksiat yang luar biasa. Berbarengan dengan dakwah yang dilakukan Pak Mail waktu itu, kemudian tanah ini dibeli oleh Mbah Toyib (Ayah dari Pak Mail) dengan tujuan yang secara tidak langsung mengambil alih tempat maksiat mereka dan menjadikannya menjadi tempat ibadah supaya lebih bermanfaat, sekaligus memperbaiki warga di wilayah ini, dan untuk meneruskan dakwah dari Pak Mail yang sebelumnya bertempatan di Darussalam.

PELAKSANAAN SHOLAT
Untuk waktu pelaksanaan sholat berjamaah yang dilakuakan bertepatan di Masjid Istiqomah, pada waktu Subuh adzan dikumandangkan pada pukul 03:50 WIB; pada waktu Dhuhur pukul 11:30 WIB, dan selesai hingga pukul 12:00 WIB; pada waktu Ashar adzan dikumandangkan pada pukul 14:45 WIB; sedangkan pada waktu Maghrib adzan dikumandangkan pukul 17:30 WIB; serta terakhir pada waktu Isya’ adzan dikumandangkan pada pukul 18:50 WIB, yang setiap hari dilakukan oleh Bapak Tentrem (narasumber)

PROSES PEMBANGUNAN MASJID
Masjid ini mulai dibangun empat tahun yang lalu, sejak bulan Mei 2013 yang proses pembangunannya berlangsung hingga sekarang. Proses pembangunan tersebut dilakukan oleh masyarakat secara bergantian, seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar masjid menyumbangkan partisipasi mereka sesuai dengan apa yang mereka miliki, jadi tidak memberatkan antara masing-masing pihak. Pada tanggal 15 Mei 2013 tanah tersebut mulai dipugar, kemudian pada tanggal 26 Juni 2013 yaitu peletakan batu pertama dari Bupati. Peletakan batu pertama tersebut didoakan oleh beberapa Kyai, yang proses pembangunan masjid tersebut masih berjalan sampai sekarang yang yang diperkirakan dalam tahap 50%.
Berkah dari sepanjang pembangunan ini justru diberikan amanah oleh Allah SWT. untuk membeli tanah baru yang akan didirikan Pondok Pesantren. Sekarang tanah tersebut sedang dalam proses pemagaran, pemberian batas-batas untuk Madrasah nanti. Menelik pada zaman dahulu, Madrasah Diniyah sendiri yang berdiri sejak 1985. Proses pembelajaran madrasah ini dilakukan setiap siang, sore, dan malam. Kulikulum yang diajarkan dalam madrasah ini berupa kurikulum pondok. Kurikulum pondok bertujuan supaya masjid dapat dekat dengan masyarakat, pintunya Madrasah Diniyah dimana setiap orang tua pasti memerlukan pembelajaran ini untuk bekal putra-putrinya dalam kehidupan yang akan datang. Kebetulah pada saat ini sudah ada pondoknya, sehingga antara anak-anak pondok dengan adik-adik madrasah diniyah dicampur. Anak pondok tersebut selain belajar sendiri, mereka ikut mengajar adik-adiknya.

KEGIATAN MASJID
Kegiatan-kegiatan rutin yang diagendakan pengurus Masjid Istiqomah hampir setiap malam dilaksanakan. Seperti, pada Malam Jum’at, bada’ Maghrib, yaitu pembacaan Manakib Syaiful Qodir. Kemudian, bada’ Isya’ pada malam Jum’at yaitu pembacaan sholawat Albar Janji yang dilaksanakan oleh ibu-ibu masyarakat beserta anak-anak pondok di masjid secara bersama-sama. Pada malam Sabtu, bada’ Maghrib, yaitu pembacaan Sholawat Nariyah, yang dilakukan oleh masyarakat beserta anak-anak pondok yang dilaksanakan di masjid. Bada’ Isya’, Istigosah rutin. Istigosah merupakan doa-doa dari masyarakat yang dipanjatkan di masjid tersebut secara bersama-sama. Istigsah tersebut dilakukan oleh masyarakat dan pondok menjadi satu di masjid, hal ini dilakukan mulai setelah Isya’ hingga setengan 10.
Malam Ahad, yakni masjid dilakukan kegiatan mukhodaman. Mukhodaman sendiri artinya membacakan Al-Quran secara bersama-sama dengan suara yang merdu. Mukhodaman ini dilakukan oleh anak-anak pondok. Pada malam Senin, kegiatan rutin selanjutnya adalah pembelajaran sholawat Albar Janji yang dilakukan oleh anak-anak pondok. Hari Selasa, pada malam Rabu masjid digunakan untuk pembacaan Tafsir Jalalen yang dilaksanakan oleh anak-anak pondok beserta masyarakat. Pada malam Kamis acara yang diselenggarakan yaitu pembacaan Kitab Tikham. Kitab Tikham tersebut merupakan kitab sepuh yang dibacakan setiap minggunya yang di dalamnya berupa pembelajaran-pembelajaran mengenai taswauf. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat sekitar masjid beserta anak-anak pondok.
Ada pula kegiatan-kegiatan tertentu yang mendatangkan musik jawa yaitu “Laras Madya”. Kegiatan tersebut diagendakan oleh pengurus masjid setiap satu tahun sekali. Laras Madya tersebut isinya berupa pembacaan Serat-Serat Ulangrah. Dalam konteks Jawa tapi teks tersebut merupakan teks yang berasal dari Arab, kandungan maknanya berasal dari ajaran tasawuf, akhlak, berasal dari orang-orang Sufi, tetapi dituangkan dalam Laras Jawa. Jika melihat di artikelnya, akan ditemukan artikel Jawa pula. Bacaannya berupa Mocopat, seperti Dandhanggula, Khinanti, dan sebagainya.
Masyarakat sekitar Masjid Istiqomah pun masih melaksanakan tahlilan, bahkan hampir dilaksanakan setiap malam. Jadi memang masyarakat sekitar masjid ini sangat menjunjung kebiasaan-kebiasaan dari orang-orang pada zaman dahulu. Tahlilan tersebut dilaksanakan setelah sholat Isya’. Dilaksanakan dibeberapa tempat, terkadang hingga di tiga tempat. Setiap satu jam, kemudian dilaksanakan ditempat yang berlainan, begitu terus hingga malam.
Pemuda-pemudi diluar anak-anak pondok yang selalu berpartisipasi dalam kegiatan masjid jika diperkirakan hampir 200 orang. Biasanya berkumpul mulai dari RT I, RT II, RT III. Contohnya, ketika Hari Raya Idhul Adha, seluruh masyarakat masjid baik dari pemuda-pemudi, ibu-ibu, bapak-bapak, maupun dari anak pondok pesantren bekerja bersama untuk mengelola hewan kurban dan proses pembagiannya. Akan tetapi, untuk takmirnya disediakan makan bersama pada waktu Hari Raya Idhul Adha seluruh masyarakat yang ada disekitaran masjid berkumpul dan berpartisipasi.

KONDISI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT
Dalam berbagai macam perbedaan yang ada di Masjid Istiqomah. Masyarakat sekitar masjid sampai saat ini tidak pernah mengalami konflik yang serius. Seluruh masyarakat berpartisipasi ke masjid. Contohnya dalam bentuk kerja bakti pembangunan masjid, mulai mengecor kemudian menggali pondasi yang kedalam tiang besi hingga lima meter. Lima meter tersebut di gali secara manual dengan linggis dan ditarik dengan tangan. Masyarakat satu dengan yang lainnya bergantian, ada yang memulai pekerjaan ini dari pagi hingga jam 1 malam. Tiang pondasi ini dibuat sebanyak 80 tiang besi pada tiap tiap jaraknya dan dikarenakan masjid ini dibangun dengan empat lantai sekaligus.
 Delapan belas tiang besi tersebut semuanya kedalaman 5 meter. Seluruh proyek pekerjaan masjid ini tidak lain merupakan partisipasi dari masyarakat, yang membantu tanpa terasa dibebani, karena masyarakat yang memiliki uang mereka akan membantu dengan uang, masyarakat yang memiliki semen akan membantu memberi semen, masyarakat yang mempunya besi, mereka akan membantu memberi besi. Seluruh masyarakat bergotong royong, hal tersebut dilakukan sampai sekarang. Di samping bantuan dalam proses pembangunan masjid ini yaitu melalui infak massa yang dilakukan setiap malam Jum’at dari ibu-ibu, mereka mempunyai kotak infak keliling.
Infak keliling tersebut juga diputar melalui pengajian rutin masyarakat yang diselenggarakan setiap Ahad Wage, dimulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB pagi. Diselenggarakan setiap Ahad Wage artinya pengajian tersebut dilaksanakan setiap 36 hari sekali. Nominal infak yang dihasilkan dari pengajian tersebut dapat mencapai 2 juta, akan tetapi terkadang mendapat 1 juta, dan terkadang kurang dari 1 juta. Akan tetapi, jumlah dana yang didapat melalui infak keliling tersebut tentunya sangat membantu untuk proses pembangunan masjid.
 Pengajian Ahad Wage merupakan acara yang dilaksanakan rutin oleh ibu-ibu dan masyarakat, ibu-ibu di sekitaran masjid memiliki inisiatif bagaimana mereka mengagendakan acara tersebut dengan mendapatkan manfaat yang selain dapat dirasakan pribadi melalui pengajian, tentunya juga akan mempermudah dana ikhlas dari masyarakat setempat untuk pemegahan masjid tersebut. Meskipun pengajian tersebut diselenggarakan oleh ibu-ibu sekitar masjid, namun masyarakat yang menghadiri acara pengajian tersebut tidak sedikit. Pengajian ini diikuti oleh bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, remaja, anak-anak pondok yang diperkirakan sekitar 250 sampai 300 orang.
Ada pula agenda yang dilaksanakan ketika menjelang bulan ramadhan, yaitu pada tanggal 18 Syahban atau 17 malam ke 18 Syahban atau Ruwah, pada waktu ini diadakan doa bersama yang dilaksanakan oleh satu wilayah di sekitar masjid. Dari RW 1 hingga RW 3, masyarakat tersebut digabung dengan anak-anak pondok pesantren, mereka bergabung berkumpul di masjid. Kumpulan acara-acara tersebut pertama, ada Sadranan atau Ziarah; kedua, Akhir Usanah; ketiga, Khataman Al-Quran. Acara-acara tersebut dilaksanakan oleh masyarakat setempat beserta dengan anak-anak pondok, pengurus-pengurus masjid yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali.
Jika melihat kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan masjid ini dan bagaimana respon masyarakat sekitar masjid, tidak lain karena cikal bakal pendiri masjid ini. Sehingga menghormati diadakan acara pada setiap tanggal 18 Syawal. Yaitu diadakan acara yang bernama Qol. Qol tersebut merupakan sesepuh pendiri majid ini, Qol tersebut bernama Simbah Haji Toyib Salim atau kerap disapa Mbah Toyib, Ayah dari Pak Mail. Agenda ini dilaksanakan setiap tanggal 18 Syawal yang dihadiri masyarakat di sekitar masjid.

ARAB YANG ADA DI JAWA
Peringatan tujuh hari, seratus hari yang mayoritas masih dilaksanakan oleh masyarakat pedalaman seperti pada zaman Walisongo merupakan budaya Arab yang di bertempatan di Jawa. Peringatan tersebut sudah ada sejak zaman Umar bin Khattab. Bermula pada Islam yang mempengaruhi budaya Jawa atau Islam yang masuk ke dalam adat Jawa, dalam bentuk konteks akhlak, hal ini yang dinamakan tasawuf. Melalui tasawuf, Islam dengan mudah diterima oleh penduduk Jawa, dimana Islam tersebu berkembang dalam konteks Arab yang masih memegang adat istiadat Jawa.
Islam masuk ke Jawa dalam bentuk akhlak, sufi, tasawuf. Datangnya lebih dahulu daripada fikih. Fikihnya tersebut berkembang di Jawa paling akhir atau paling lama. Sehingga, pengaruh pemikiran umat Islam di Jawa yang dipengaruhi oleh Imam Al-Gazali. Sederetan dengan tokoh tersebut kemudian masuk, dan proses Islamisasi di Jawa tersebut melalui tasawuf, kemudian berangkat dengan pola-pola fikih atau pendekatan-pendekatan verbal, hukum. Akan tetapi Islam yang lebih dahulu masuk ke Jawa yaitu ajarannya berupa tasawuf, nilai-nilai akhlak, nilai-nilai Ketuhanan, bukan berupa hukum.
Islam yang masuk ke budaya-budaya lokal yang ada di Pulau Jawa dapat dengan mudah diterima, sehingga terjadi islamisasi secara masif. Sebagai contoh adalah orang-orang Hindu-Budha yang masuk ke dalam agama Islam tanpa ada pengaruh peperangan atau penekanan. Akan tapi, mereka tentunya tertarik terhadap gaya islam, terhadap pendekatan-pendekatan islam yang humanistis, toleran, dan sangat menyentuh hati orang lain. Sehingga, mereka tanpa dirubah maupun dipaksapun akan berubah dengan sendirinya.
Kemudian, datanglah para tuha, tuha itu berupa hukum. Pada intinya, tuha adalah tauhid dan akhlak yang sudah masuk. Melalui hukum tentunya proses tersebut dilakukan dengan cara paksa yang seolah-olah akan terjadi otot-ototan. Kalau tasawuf sentuhannya melalui hati, dan tauhid. Perbedaannya ada pada hukum dan tauhid, semuanya berasal dari Arab, hanya saja karena Islam sudah masuk di ranah Jawa, terkadang orang memberikan makna lain, yaitu berupa penamaan Kejawen.
Sebenarnya mereka kearaban, dan tidak pantas apabila disesuaikan dengan orang-orang Jawa, yang tidak cocok apabila di suruh menggunakan pakaian jubah-jubah, tidak pantas dan bukan hal yang wajar bagi mereka yang terbiasa memakai beskap dari turun temurun. Dan, kebetulan pula di wilayah masjid ini memang trah-trahnya dari kraton-kraton, jadi tidak hanya berasal dari bekas Keraton Kartasura. Karena dari Pak Mail,  Mbah Toyib, hingga ke Brawijaya masih terdapat silsilahnya

REFLEKSI
            Setelah melakukan berbagai observasi pengolahan lapangan serta wawancara yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Wawancara terkait dengan Bapak Maik sebagai takmir Masjid Istiqomah dan Bapak Tentrem sebagai muadzin Masjid Istiqomah. Masjid ini memiliki keunikan serta daya tarik yang luar biasa. Berdasarkan informasi yang saya temukan di tempat bahwa masjid ini memang masih dalam tahap renovasi dengan empat lantai dibangun sekaligus. Secara fisik memang masih berupa tiang pondasi, serta semen yang belum selesai dihaluskan.
Akan tetapi, jika melihat jamaah pada waktu sholat dan masyarakat yang menghadiri setiap kegiatan yang dilaksanakan masjid ini memang disini sangat luar biasa. Dari pondok pesantren, masyarakat yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, serta pemuda selain anak-anak pondok. Belum lagi, setiap pagi, siang, maupun sore hari, tempat ini diramaikan dengan adik-adik Madrasah Diniyah. Dan setiap malam diramaikan dengan adanya kegiatan seperti pembacaan bersama Sholawat Nariyah, Sholawat Albar Janji, tahlilan, dan sebagainya.
Memang masyarakat di sekitar Masjid Istiqomah masih memegang erat ajaran-ajaran berupa ajaran tasawuf. Yang dalam kehidupan sosial agamanya juga masih memegang erat “Budaya Islam Jawa”. Alasannya, kita memang masjid ini selain dari lokasinya yang dekat dengan keraton, dan memang asal-usul dari masyarakat daerah tersebut masih memiliki keterikatan dengan keraton-keraton lain, seperti Brawijaya.  Selain itu, masyarakat ini menggunakan Islam Arab, yang melebur bersama dengan adat-istiadat orang-orang Jawa pada zaman dahulu, seperti pada masa Walisong dalam berdakwah. Orang-orang di Jawa akan lebih mudah menerima Islam tanpa paksaan, melalui agama Islam Arab yang melebur pada Islam di Jawa. Jadi, tidak untuk pemahaman agama Islam Arab yang kemudian di Jawa kan.


Senin, 23 Oktober 2017

Tidak Ada Jalan Buntu Untuk Menuju Kesuksesan



            Dalam situasi sekarang ini kita sebagai mahasiswa sering kali dihadapkan oleh berbagai masalah, terutama bagi mahasiswa baru. Entah dari dalam diri mereka sendiri, dari orang-orang sekitar, maupun lingkungan tempat mereka berada. Salah satunya yang akan saya bahas saat ini yaitu problematika seorang mahasiswa baru atau perasaan dilema ketika ia harus melanjutkan studinya di luar kota, yang harus berpisah dengan keluarganya. Sikap utama yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa baru yaitu, pertama adalah menjadi mahasiswa yang mandiri. Dimana mental disini sangat diperlukan, sikap diri maupun gaya hidup juga diperlukan. Beberapa yang akan saya sampaikan mungkin merupakan gabungan dari materi dan nasihat yang disampaikan oleh Bapak Dr. H Ahmad Umar, M. A selaku Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan. Dengan tema “Meningkatkan Mutu Peran dan Kontribusi Pendidikan Islam Bagi Masa Depan Pembangunan Bangsa”.

            Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh mahasiswa yaitu mereka dituntut untuk menjadi pribadi yang mandiri, smart, peka terhadap keadaan sekitar dan yang paling penting adalah selalu taat dan meminta doa restu kepada orang tua. Dalam keadaan apapun, doa restu dari kedua orang tua adalah hal yang paling mujarab diantara segala doa dan usaha yang telah kita lakukan. Walaupun kita sedang tidak tinggal bersama, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk selalu meminta restu dan setidaknya memberi sedikit kabar kepada orang tua. 

            Kemudian, menjadi mahasiswa yang smart, aktif, pandai, cerdas dapat disandang oleh mahasiswa bari berbagai golongan. Salah satu hal yang paling menonjol adalah ketidak mampuan seseorang tidak menutup atau tidak membatasi pengetahuan seseorang. Ilmu tidak hanya dapat dicari dari pengalaman-pengalam yang bergengsi, komunitas-komunitas yang elite, hobi-hobi yang berkelas. Semua itu dapat di peroleh dari pengalaman-pengalaman yang sederhana, mengikuti berbagai pergerakan mahasiswa, menjadi mahasiswa berprestasi baik akademik maupun non akademik.

            Menghindari sikap buruk dari mahasiswa yang tinggal jauh bersama orang tua. Permasalahan yang paling utama yakni sikap boros mahasiswa, perasaan tidak mudah puas yang menyebabkan mereka membeli barang-barang yang tidak menjadi prioritas. Sebaiknya sebagai mahasiswa yang ideal dan mampu mengerti kondisi entah dari kalangan orang mampu maupun tidak. Hendaknya dapat memanfaatkan uang yang ia peroleh bulanannya, bukan hanya untuk berfoya-foya, tetapi hendaknya digunakan untuk hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.

            Tetapi ada satu hal yang tidak dapat lepas dari sikap mahasiswa masa kini. Walaupun mereka mengikuti berbagai jenis kegiatan yang mungkin menguras otak dan tenaga. Mahasiswa tetap dituntut untuk selalu rajin menjalankan ibadahnya, terlebih ketika ada waktu luang sebelum berangkat ke kampus yakni melaksanakan sholat Dhuha dua rekaat atau empat rekaan dan sholat tahajud di malam hari.

            Nah, dari sini kita dapat menyimpulkan. Sebetulnya kesuksesan tidak dilihat dari mana dia dilahirkan atau dimana tempat dia meneruskan pendidikan atau dimana dia bekerja. Tetapi kesuksesan dapat diperoleh dalam diri masing-masing induvidu. Kepuasan dapat diperoleh dari diri sendiri. Orang lain memang hanya dapat mengomentari, tetapi kepuasan dan perasaan bangga hanya dapat timbul dari dalam diri kita sendiri. Hal lain yang mungkin terjadi, ketika kita mampu membawa pengaruh positif untuk orang-orang di sekitar kita. Tanpa memandang darimana kita, itu sudah dikategorikan dalam hal sukses.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Cerpen berjudul "HAYATI" by L. Wijayani




            Suara debur pasir di tepi pantai terdengar begitu jelas siang itu diselimuti oleh ombak dan angin yang perlahan menghela nafas ini berpaku pada satu tujuan, ada seorang wanita cantik jelita ku lihat dari pojok perbatasan pantai entah sedang apa di tepi sana, sendiri. Ku pandanginya selalu ku lihat di sekelilingnya tak ada seorangpun yang menemani, wanita cantik jelita, anggun rupanya, ku lihat sedang menahan kesedihan ketika aku mendekatinya, dekat dan semakin dekat. Rupanya dia sedang menangis. Ku bertanya pada gadis itu.

            “Hai.. apa yang Kau lakukan di sini?” Walaupun sungguh aku tahu dia sedang menangis dan aku mencoba untuk sedikit menegurnya, ku harap ini sedikit menghilangkan kesedihannya. Tetapi, dia hanya sedikit menengok ke arahku tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
            “Aku sering berada di sini, setiap kali Aku di sini Aku selalu ingat dengan seseorang yang pertama kali membuat Aku jatuh hati. Fikiranku selalu berantakan setiap kali Aku menginjakkan kakiku di sini, namun takdir selalu saja menuntunku kemari jika Aku rindu.” Sambungku kembali dengan tujuan yang sama agar gadis itu tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Namun dia masih diam, dan lucunya dia malah pergi meninggalkan aku sambil berlari. Sepertinya memang dia sedang ingin sendiri, atau mungkin aku yang terlalu ingin ikut campur dengan urusannya.
            “Baiklah. Waktu sudah hampir senja, Aku enggan berlama-lama di sini, karena akan semakin mengoyak-oyak fikiranku dan akan semakin dalam aku mengingat Dia. Aku akan pulang dan melanjutkan tugas kuliahku yang belum terselesaikan.” Gumamku dalam hati, yang tak memperdulikan lagi tangis gadis itu.
***
            “Hey.. Rein? Tumben sudah pulang?” tanya ibuku ketika aku hendak menaruh sepedaku yang biasanya tak melihatku setiap sore.
            “Iya Ma. Banyak tugas kuliah nih. Yaudah ya Ma, Rein masuk dulu.” jawabku singkat, dan langsung saja aku memasuki ruangan penuh bisu yang akan membuatku menemukan inovasi-inovasi baru. Tapi ibuku tiba-tiba saja bersontak.
            “Besuk libur kan? Temani Mama bertemu dengan teman Mama ke Semarang ya, Rein.” sambung ibuku yang mengajak memintaku memenuhi permohonannya.
            “Halah, Ma. Rein mau beristirahat. Satu hari saja, penat juga. Aku rindu dengan rumahku tersayang. Jarang tak berlama-lama di rumah ini rasanya Aku rindu sekali.” sambungku sesekali menggoda dan mencari alasan.
            “Kau ini.. Kau bilang kalau Kau sedang penat. Baiklah ya, Kau ikut dengan Mama, besuk.” sontak mamaku kembali sambil tertawa kecil.
            “Hmm.. taulah Ma.” akupun langsung pergi memasuki tempat menyepiku.
            Di sekejap waktu, aku menitihkan waktuku sesering kali setiap hujan mulai reda di sore menjelang petang. Aku merindukan saat-saat itu. Kenapa? Karena saat itu hati ini berbicara entah mengapa kemana dan bersama siapa, entah menari menyanyi ataupun sendiri. Selalu saja tak henti mengingatmu. Sesekali aku melihat keluar jendela, senja tiba dan yang terbayang disana hanya kenangan masa lalu ketika kita masih bersama. Entah mungkin suatu saat nanti kau dan aku akan bersama kembali atau kau akan bersama yang lain, ini semua tak habis berhenti hanya sekedar karena lambaian tangan saja. Disini masih terasa jelas kehadiranmu, sosok wanita yang jelita, permata yang ku temukan dulu kini tinggal sinarnya saja yang tak mungkin dapat dengan mudah aku lupa. Walaupun bahkan kini sinarnya hampir mulai redup, kekasihku. Nur Hayati.
***
            Kicauan burung terdengat amat jelas dari luar jendela, pagi hari telah kembali tiba.
            “Hoamsszzz...” terasa segar udara pada pagi hari ini, jendela kamar yang masih tertutup rapat dan suara ketukan pintu berulang-ulang. Udara menghela sela-sela ruang sempit merasuki kamar seisinya. Aku terbangun dengan kutukan yang luar biasa di luar pola pikirku.
            “Ulah siapa pagi-pagi buta sudah mengetuk pintu.” Langkah kaki membabi buta membuka pintu kamar dengan keadaan separuh sadar. Dengan kalimat yang tidak jelas terucap dalam hati. Ternyata muncul dibalik tirai pintu pembatas, bau sedap seperti sesuatu yang teramat ku sukai. Aku mencoba membuka kedua kelopak mata, ternyata ibu sudah memasakkan nasi goreng cumi kesukaanku. Tapi terselip dalam hati aku menduga bahwa ada sesuatu yang beliau inginkan.
            “Rein, cepat Kau bangun, dan mandi setelah itu sarapan nasi goreng cumi kesukaaanmu.”
            “Mama.. Baru saja Rein melangkahkan kaki dari tempat tidur.”
            “Kau ini, sudah ada yang membuatkan sarapan khusus, mestinya kau lebih bersemangat daripada hari-hari biasanya”
            “Memang siapa yang sudah membuatkannya untukku?”
            “Tadi, ada wanita cantik datang kemari menitipkan makanan dan memberi Mama sepotong surat yang dimintanya agar Mama berikan padamu.”
            “Siapa Ma? Apa dia menyebutkan namanya?” sambungku penasaran dengan ucapan Ibu.
            “Mama tak sempat bertanya, karena Dia terlihat buru-buru sekali dengan pakaian rapi, semacam hendak pulang atau pergi jauh, Dia hanya mengatakan bahwa Dia adalah temanmu sewaktu di SMA. Apa kau tahu?”
            “Lalu, bolehkah Rein minta surat yang Dia berikan?” Satu permintaanku, untuk sedikit menghapus rasa penasaran yang datang dengan spontan.
            Setelah aku menerima sepotong surat yang ada dan setelah surat itu berada di kedua jemariku, aku langsung membukanya dengan perasaan penuh tanya bahwa siapakah yang telah mengirimkannya. Seperti mengoyak-oyak perasaan, dan memupuk seribu harapan andai saja kau yang telah mengirimkan surat ini, setelah sekian lama kita tidak bertatap rupa. Akhirnya, aku buka sepotong surat kecil itu.
            “Jadikan aku ruang hampa yang berisikan sunyimu dan sunyiku, hingga ditemuilah ruang canggung di dalamnya. Jadikan aku sebagai tetesan air matamu, khalayak embun pagi hingga tiada lagi kata elegi pada dirimu, diri kita. Hingga begitu naif dihadapan cahaya pagi. Waktu yang tersisa berupa sekat-sekat kebahagiaan abadi berpakaian fana dengan sedikit jejak lipstik dikerah bajumu. Waktu yang bernyanyi mengiringi untaian-untaian diksi kala kita enggan berucap, waktu tersimpul senyum. Dalam senja kemudian ku ukir sedemikian abstrak berkordinasi dengan lukisan sederhana di dunia nyata. Pada senja kusimpan bayang-bayang kita dibalik kertas putih bersela tingkah manja merona. Kita kan menjadi aku, menjelma kamu, tanpa dia di dalamnya. Kita kan gagah, dengan tawa senyum sumringah, tanpa ada rasa sayang yang lelah.”
            Aku melepaskan genggamanku terhadap surat itu, goresan pena yang tertempel melukiskan dengan jelas kehadiranmu di sini. Selintas datang dan terucap.
            “Jika Kau menuliskan surat ini, tandanya Kau telah kembali.”
            Tetapi waktu seakan tak ingin berdamai denganku, Ibu sudah terlebih dulu memintaku untuk mengantarkannya pergi. Dan sekarang apalah dayaku, akupun tidak  bisa menolak secara mentah-mentah permintaan beliau hanya karena urusan wanita.
***
            Semerbak harum aroma palsu ku buat-buat hari itu. Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 WIB dan kamipun sampai di Ibukota Semarang. Suasana perkotaan yang maju ditambah dengan banyaknya kendaraan yang melintas menambah kemacatan jalan utama. Dengan sedikit lamunan andai kala itu aku melihatnya datang. Akan ku berikan setangkai mawar putih untuk menebus segala kesilapan yang pernah ku lakukan. Pertanda permintaan maaf yang tulus dari hati. Pasti hari ini aku akan beranjak pergi dari segala lamunan-lamunan tak berguna.
            Aku memasuki bangunan yang cantik bersih dan rapi. Disitu pula aku diperkenalkan dengan sahabat dari ibuku yang konon adalah sabahat pena yang begitu dekat. Beliau adalah pindahan dari Yogyakarta yang memiliki putri kecil yang kini bersekolah di Belanda. Dalam beberapa waktu lalu putri beliau kembali, untuk menemui sahabatnya yang berada di Yogyakarta. Hatiku terdongkrak setelah mendengarkan pernyataannya dan melontarkan pertanyaan.
            “Siapa nama anak Tante?”
            “Hayati”
            “Nur Hayati?”
“Iya. Dia adalah mutiara hati pembawa keberuntungan. Parasnya yang cantik. Dia pula yang telah membeli rumah seindah ini. Kami dulu memanglah dari kalangan yang sederhana. Namun, karena kegigihan dia, keuletan dia, dia tekun dalam belajar hingga pada waktunya dia mendapatkan satu beasiswa, dan dia memutuskan untuk berkuliah di Belanda.”
“Lalu kapan Nur Hayati akan kembali?”
“Mungkin, seusai bertemu dengan pria itu.”
***
            Sehari setelah itu  aku dan ibu kembali ke Yogyakarta. Dengan niat dan tekadku yang begitu bulat dengan penuh keyakinan. Hari ini aku akan bertemu dengan Nur Hayati dimanapun dia berada, pasti akan aku temukan. Aku menghubungi ibundanya menggunakan nomor ponsel yang telah diberikannya waktu itu. Tanpa dia tahu bahwa aku adalah sahabat yang telah dimaksud mutiara hatinya. Aku menanyakan dimanakah putrinya berada, ternyata dia berada di tempat dimana aku bertemu dengan gadis di kala itu ketika di tepi pantai, sendiri yang dengan sengaja pergi meninggalkanku.
Akupun bergegas ke sana, separuh waktu akupun menginjakkan telapak kaki di pantai itu. Kembali ku dengar desiran pasir putih yang anggun berirama dengan nada yang menyejukkan jiwa. Teringat kembali aku padamu. Aku berjalan setapak demi setapak menyusuri tepi-tepi pantai. Ku lihat tak ada warga pribumi yang berkunjung. Kemudian, aku terduduk pada batang pohon yang telah tumbang. Aku memejamkan kedua kelopak mataku sembari menundukkan pandanganku. Meresapi perkataan ibunya kala itu, bahwa dia pergi untuk keluarganya, dan kembali untukku.
“Reinhart?” Suara lihir datang menghampiri, yang lama tak terdengar namun tak asing terucap.
“Ka.. kau?” ucapku dengan nada tersendat.
Tak lama kemudian, muncul senyum simpul diwajahnya sudah lama tak terlihat namun tak asing kupandangi.
“Iya.. aku.”
“Apakah aku sedang bermimpi?”
“Bolehkah aku mencubitmu?” dengan tegas mencoba mencupit lenganku.
“Aduh..” Sontakku.
Tak lama kemudian, aku  memeluknya sebagai pelepas rindu, teramat rindu setelah 4 tahun tidak berjumpa, tidak berkomunikasi, atau menuliskan sepotong surat.
“Aku merindukanmu.”
“Aku lebih merindukanmu. Aku telah lama menunggu kabar darimu. Menanti-nanti alasan mengapa kau pergi tanpa sebab. Aku tidak tau dimana kau tinggal. Aku hanya menjalani hari-hari dengan alasan suatu hari aku akan bertemu denganmu kembali. Dan sekarang...”
Hayati kemudian melepaskan genggamannya.
“Aku pergi untuk, untuk keluargaku dan kembali untukmu.”                  
“Aku senang mendengarnya.”
Mulai saat itulah Hayati kembali menjelaskan mengapa dia pergi tanpa sebab, dan
Rein pun menjelaskan pula bahwa ia pun telah mengetahui buah pencapaian, dan merasa sangat bangga atas jerih payah Hayati. Walaupun tidak ada kabar yang jelas, tidak ada satu orangpun yang dapat menjawab segala pertanyaannya. Namun, tak ada rasa sesal setelah bertemu dengan permata hatinya yang sempat hilang yang akhirnya pasti akan kembali.
Bersambung... 

Surakarta, 2017