Devi Laras Wijayani / Perbankan Syariah 1C
/ 175231116
Sekumpulan tulisan dalam lembar ini
bertujuan untuk menggali bagaimanakah kehidupan dalam konteks sejarah islam
yang berada di sekitar bekas Keraton Kartasura, yang tentunya wilayah ini masih
menerapkan trah-trah jawa, baik dari masyarakat maupun karena masih dalam
lingkup keraton. Masjid Istiqomah merupakan salah satu masjid yang terletak di
sebelah barat makam Keraton Kartasura, letaknya sangat strategis apabila di
bandingkan dengan masjid-masjid lain yang berada di sekitar keraton, misalnya
Masjid Hastana yang lokasinya terlalu masuk ke dalam permukiman warga.
Jika kita menelik lagi tentang sejarah
Masjid Istiqomah, masjid ini berkaitan dengan banyak hal. Bapak Mail
(narasumber) sebagai Takmir Masjid Istiqomah merupakan anak dari Bapak Haji
Toyib Salim atau kerap disapa dengan nama Mbah Toyib, yang membeli tanah di
wilayah tersebut untuk mendirikan Masjid Istiqomah. Dan Bapak Tentrem
(narasumber) sebagai muadzin Masjid Istiqomah. Beliau-beliau ini merupakan
tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan masjid.
KONDISI FISIK MASJID
Masjid Istiqomah jika dilihat secara
fisik memang belum selesai direnovasi atau masih dalam tahap pembangunan,
bahkan masih ada bangunan-bangunan yang berupa tiang, berupa semen yang belum
diratakan. Akan tetapi, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini,
maupun masyarakat yang partisipasi dalam kegiatan tersebut tidak terbilang
sedikit, ada pula masyarakat yang berasal dari luar daerah yang mengikuti
kegiatan tersebut. Mereka tidak sedikit pula yang memberikan infak lebih,
dimana dana infak tersebut biasanya diputar untuk proses membangun masjid.
KEUNIKAN YANG SELALU
MENJADI DAYA TARIK
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di
Masjid Istiqomah merupakan kegiatan rutin serta menjadi daya tarik tersendiri
oleh masyarakat yang ada hampir diadakan setiap malam. Kegiatan-kegiatan
tersebut tujuannya tidak lain senantiasa untuk menanam saham akhirat dengan ajaran-ajaran
masih mengangkat kebudayaan Jawa, dan yang kebetulan wilayah masjid ini
berdekatan atau masih dalam satu lingkup dengan bekas keraton sehingga masih
ada trah-trah dari leluhur yang menggunakan budaya islam pada kehidupan
sehari-hari.
TAHUN 1973
Dahulu sebelum didirikan masjid, lokasi
ini merupakan kebun bambu dengan kebiasaan warganya menjadikan tempat ini
sebagai tempat maksiat yang luar biasa. Berbarengan dengan dakwah yang
dilakukan Pak Mail waktu itu, kemudian tanah ini dibeli oleh Mbah Toyib (Ayah
dari Pak Mail) dengan tujuan yang secara tidak langsung mengambil alih tempat
maksiat mereka dan menjadikannya menjadi tempat ibadah supaya lebih bermanfaat,
sekaligus memperbaiki warga di wilayah ini, dan untuk meneruskan dakwah dari
Pak Mail yang sebelumnya bertempatan di Darussalam.
PELAKSANAAN SHOLAT
Untuk waktu pelaksanaan sholat berjamaah
yang dilakuakan bertepatan di Masjid Istiqomah, pada waktu Subuh adzan
dikumandangkan pada pukul 03:50 WIB; pada waktu Dhuhur pukul 11:30 WIB, dan selesai
hingga pukul 12:00 WIB; pada waktu Ashar adzan dikumandangkan pada pukul 14:45
WIB; sedangkan pada waktu Maghrib adzan dikumandangkan pukul 17:30 WIB; serta
terakhir pada waktu Isya’ adzan dikumandangkan pada pukul 18:50 WIB, yang
setiap hari dilakukan oleh Bapak Tentrem (narasumber)
PROSES PEMBANGUNAN
MASJID
Masjid ini mulai dibangun empat tahun
yang lalu, sejak bulan Mei 2013 yang proses pembangunannya berlangsung hingga sekarang.
Proses pembangunan tersebut dilakukan oleh masyarakat secara bergantian, seluruh
masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar masjid menyumbangkan partisipasi
mereka sesuai dengan apa yang mereka miliki, jadi tidak memberatkan antara
masing-masing pihak. Pada tanggal 15 Mei 2013 tanah tersebut mulai dipugar,
kemudian pada tanggal 26 Juni 2013 yaitu peletakan batu pertama dari Bupati. Peletakan
batu pertama tersebut didoakan oleh beberapa Kyai, yang proses pembangunan
masjid tersebut masih berjalan sampai sekarang yang yang diperkirakan dalam
tahap 50%.
Berkah dari sepanjang pembangunan ini
justru diberikan amanah oleh Allah SWT. untuk membeli tanah baru yang akan didirikan
Pondok Pesantren. Sekarang tanah tersebut sedang dalam proses pemagaran,
pemberian batas-batas untuk Madrasah nanti. Menelik pada zaman dahulu, Madrasah
Diniyah sendiri yang berdiri sejak 1985. Proses pembelajaran madrasah ini dilakukan
setiap siang, sore, dan malam. Kulikulum yang diajarkan dalam madrasah ini
berupa kurikulum pondok. Kurikulum pondok bertujuan supaya masjid dapat dekat
dengan masyarakat, pintunya Madrasah Diniyah dimana setiap orang tua pasti
memerlukan pembelajaran ini untuk bekal putra-putrinya dalam kehidupan yang
akan datang. Kebetulah pada saat ini sudah ada pondoknya, sehingga antara
anak-anak pondok dengan adik-adik madrasah diniyah dicampur. Anak pondok
tersebut selain belajar sendiri, mereka ikut mengajar adik-adiknya.
KEGIATAN MASJID
Kegiatan-kegiatan rutin yang diagendakan
pengurus Masjid Istiqomah hampir setiap malam dilaksanakan. Seperti, pada Malam
Jum’at, bada’ Maghrib, yaitu pembacaan Manakib Syaiful Qodir. Kemudian, bada’
Isya’ pada malam Jum’at yaitu pembacaan sholawat Albar Janji yang dilaksanakan
oleh ibu-ibu masyarakat beserta anak-anak pondok di masjid secara bersama-sama.
Pada malam Sabtu, bada’ Maghrib, yaitu pembacaan Sholawat Nariyah, yang
dilakukan oleh masyarakat beserta anak-anak pondok yang dilaksanakan di masjid.
Bada’ Isya’, Istigosah rutin. Istigosah merupakan doa-doa dari masyarakat yang
dipanjatkan di masjid tersebut secara bersama-sama. Istigsah tersebut dilakukan
oleh masyarakat dan pondok menjadi satu di masjid, hal ini dilakukan mulai
setelah Isya’ hingga setengan 10.
Malam Ahad, yakni masjid dilakukan
kegiatan mukhodaman. Mukhodaman sendiri artinya membacakan Al-Quran secara
bersama-sama dengan suara yang merdu. Mukhodaman ini dilakukan oleh anak-anak
pondok. Pada malam Senin, kegiatan rutin selanjutnya adalah pembelajaran sholawat
Albar Janji yang dilakukan oleh anak-anak pondok. Hari Selasa, pada malam Rabu masjid
digunakan untuk pembacaan Tafsir Jalalen yang dilaksanakan oleh anak-anak
pondok beserta masyarakat. Pada malam Kamis acara yang diselenggarakan yaitu pembacaan
Kitab Tikham. Kitab Tikham tersebut merupakan kitab sepuh yang dibacakan setiap
minggunya yang di dalamnya berupa pembelajaran-pembelajaran mengenai taswauf.
Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat sekitar masjid beserta anak-anak pondok.
Ada pula kegiatan-kegiatan tertentu yang
mendatangkan musik jawa yaitu “Laras Madya”. Kegiatan tersebut diagendakan oleh
pengurus masjid setiap satu tahun sekali. Laras Madya tersebut isinya berupa pembacaan
Serat-Serat Ulangrah. Dalam konteks Jawa tapi teks tersebut merupakan teks yang
berasal dari Arab, kandungan maknanya berasal dari ajaran tasawuf, akhlak, berasal
dari orang-orang Sufi, tetapi dituangkan dalam Laras Jawa. Jika melihat di artikelnya,
akan ditemukan artikel Jawa pula. Bacaannya berupa Mocopat, seperti Dandhanggula,
Khinanti, dan sebagainya.
Masyarakat sekitar Masjid Istiqomah pun
masih melaksanakan tahlilan, bahkan hampir dilaksanakan setiap malam. Jadi
memang masyarakat sekitar masjid ini sangat menjunjung kebiasaan-kebiasaan dari
orang-orang pada zaman dahulu. Tahlilan tersebut dilaksanakan setelah sholat
Isya’. Dilaksanakan dibeberapa tempat, terkadang hingga di tiga tempat. Setiap
satu jam, kemudian dilaksanakan ditempat yang berlainan, begitu terus hingga
malam.
Pemuda-pemudi diluar anak-anak pondok
yang selalu berpartisipasi dalam kegiatan masjid jika diperkirakan hampir 200 orang.
Biasanya berkumpul mulai dari RT I, RT II, RT III. Contohnya, ketika Hari Raya
Idhul Adha, seluruh masyarakat masjid baik dari pemuda-pemudi, ibu-ibu,
bapak-bapak, maupun dari anak pondok pesantren bekerja bersama untuk mengelola hewan
kurban dan proses pembagiannya. Akan tetapi, untuk takmirnya disediakan makan
bersama pada waktu Hari Raya Idhul Adha seluruh masyarakat yang ada disekitaran
masjid berkumpul dan berpartisipasi.
KONDISI DAN PARTISIPASI
MASYARAKAT
Dalam berbagai macam perbedaan yang ada
di Masjid Istiqomah. Masyarakat sekitar masjid sampai saat ini tidak pernah
mengalami konflik yang serius. Seluruh masyarakat berpartisipasi ke masjid.
Contohnya dalam bentuk kerja bakti pembangunan masjid, mulai mengecor kemudian
menggali pondasi yang kedalam tiang besi hingga lima meter. Lima meter tersebut
di gali secara manual dengan linggis dan ditarik dengan tangan. Masyarakat satu
dengan yang lainnya bergantian, ada yang memulai pekerjaan ini dari pagi hingga
jam 1 malam. Tiang pondasi ini dibuat sebanyak 80 tiang besi pada tiap tiap
jaraknya dan dikarenakan masjid ini dibangun dengan empat lantai sekaligus.
Delapan belas tiang besi tersebut semuanya
kedalaman 5 meter. Seluruh proyek pekerjaan masjid ini tidak lain merupakan partisipasi
dari masyarakat, yang membantu tanpa terasa dibebani, karena masyarakat yang
memiliki uang mereka akan membantu dengan uang, masyarakat yang memiliki semen akan
membantu memberi semen, masyarakat yang mempunya besi, mereka akan membantu
memberi besi. Seluruh masyarakat bergotong royong, hal tersebut dilakukan
sampai sekarang. Di samping bantuan dalam proses pembangunan masjid ini yaitu
melalui infak massa yang dilakukan setiap malam Jum’at dari ibu-ibu, mereka mempunyai
kotak infak keliling.
Infak keliling tersebut juga diputar melalui
pengajian rutin masyarakat yang diselenggarakan setiap Ahad Wage, dimulai dari
pukul 06.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB pagi. Diselenggarakan setiap Ahad Wage
artinya pengajian tersebut dilaksanakan setiap 36 hari sekali. Nominal infak yang
dihasilkan dari pengajian tersebut dapat mencapai 2 juta, akan tetapi terkadang
mendapat 1 juta, dan terkadang kurang dari 1 juta. Akan tetapi, jumlah dana
yang didapat melalui infak keliling tersebut tentunya sangat membantu untuk
proses pembangunan masjid.
Pengajian Ahad Wage merupakan acara yang
dilaksanakan rutin oleh ibu-ibu dan masyarakat, ibu-ibu di sekitaran masjid
memiliki inisiatif bagaimana mereka mengagendakan acara tersebut dengan
mendapatkan manfaat yang selain dapat dirasakan pribadi melalui pengajian,
tentunya juga akan mempermudah dana ikhlas dari masyarakat setempat untuk
pemegahan masjid tersebut. Meskipun pengajian tersebut diselenggarakan oleh
ibu-ibu sekitar masjid, namun masyarakat yang menghadiri acara pengajian
tersebut tidak sedikit. Pengajian ini diikuti oleh bapak-bapak, ibu-ibu,
pemuda, remaja, anak-anak pondok yang diperkirakan sekitar 250 sampai 300
orang.
Ada pula agenda yang dilaksanakan ketika
menjelang bulan ramadhan, yaitu pada tanggal 18 Syahban atau 17 malam ke 18
Syahban atau Ruwah, pada waktu ini diadakan doa bersama yang dilaksanakan oleh
satu wilayah di sekitar masjid. Dari RW 1 hingga RW 3, masyarakat tersebut digabung
dengan anak-anak pondok pesantren, mereka bergabung berkumpul di masjid.
Kumpulan acara-acara tersebut pertama, ada Sadranan atau Ziarah; kedua, Akhir
Usanah; ketiga, Khataman Al-Quran. Acara-acara tersebut dilaksanakan oleh
masyarakat setempat beserta dengan anak-anak pondok, pengurus-pengurus masjid
yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali.
Jika melihat kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan masjid ini dan bagaimana respon masyarakat sekitar masjid,
tidak lain karena cikal bakal pendiri masjid ini. Sehingga menghormati diadakan
acara pada setiap tanggal 18 Syawal. Yaitu diadakan acara yang bernama Qol. Qol
tersebut merupakan sesepuh pendiri majid ini, Qol tersebut bernama Simbah Haji
Toyib Salim atau kerap disapa Mbah Toyib, Ayah dari Pak Mail. Agenda ini
dilaksanakan setiap tanggal 18 Syawal yang dihadiri masyarakat di sekitar
masjid.
ARAB YANG ADA DI JAWA
Peringatan tujuh hari, seratus hari yang
mayoritas masih dilaksanakan oleh masyarakat pedalaman seperti pada zaman
Walisongo merupakan budaya Arab yang di bertempatan di Jawa. Peringatan
tersebut sudah ada sejak zaman Umar bin Khattab. Bermula pada Islam yang
mempengaruhi budaya Jawa atau Islam yang masuk ke dalam adat Jawa, dalam bentuk
konteks akhlak, hal ini yang dinamakan tasawuf. Melalui tasawuf, Islam dengan
mudah diterima oleh penduduk Jawa, dimana Islam tersebu berkembang dalam
konteks Arab yang masih memegang adat istiadat Jawa.
Islam masuk ke Jawa dalam bentuk akhlak,
sufi, tasawuf. Datangnya lebih dahulu daripada fikih. Fikihnya tersebut berkembang
di Jawa paling akhir atau paling lama. Sehingga, pengaruh pemikiran umat Islam di
Jawa yang dipengaruhi oleh Imam Al-Gazali. Sederetan dengan tokoh tersebut kemudian
masuk, dan proses Islamisasi di Jawa tersebut melalui tasawuf, kemudian berangkat
dengan pola-pola fikih atau pendekatan-pendekatan verbal, hukum. Akan tetapi
Islam yang lebih dahulu masuk ke Jawa yaitu ajarannya berupa tasawuf,
nilai-nilai akhlak, nilai-nilai Ketuhanan, bukan berupa hukum.
Islam yang masuk ke budaya-budaya lokal
yang ada di Pulau Jawa dapat dengan mudah diterima, sehingga terjadi islamisasi
secara masif. Sebagai contoh adalah orang-orang Hindu-Budha yang masuk ke dalam
agama Islam tanpa ada pengaruh peperangan atau penekanan. Akan tapi, mereka
tentunya tertarik terhadap gaya islam, terhadap pendekatan-pendekatan islam
yang humanistis, toleran, dan sangat menyentuh hati orang lain. Sehingga,
mereka tanpa dirubah maupun dipaksapun akan berubah dengan sendirinya.
Kemudian, datanglah para tuha, tuha itu
berupa hukum. Pada intinya, tuha adalah tauhid dan akhlak yang sudah masuk.
Melalui hukum tentunya proses tersebut dilakukan dengan cara paksa yang seolah-olah
akan terjadi otot-ototan. Kalau tasawuf sentuhannya melalui hati, dan tauhid.
Perbedaannya ada pada hukum dan tauhid, semuanya berasal dari Arab, hanya saja
karena Islam sudah masuk di ranah Jawa, terkadang orang memberikan makna lain, yaitu
berupa penamaan Kejawen.
Sebenarnya mereka kearaban, dan tidak
pantas apabila disesuaikan dengan orang-orang Jawa, yang tidak cocok apabila di
suruh menggunakan pakaian jubah-jubah, tidak pantas dan bukan hal yang wajar
bagi mereka yang terbiasa memakai beskap dari turun temurun. Dan, kebetulan pula
di wilayah masjid ini memang trah-trahnya dari kraton-kraton, jadi tidak hanya
berasal dari bekas Keraton Kartasura. Karena dari Pak Mail, Mbah Toyib, hingga ke Brawijaya masih terdapat
silsilahnya
REFLEKSI
Setelah melakukan berbagai observasi
pengolahan lapangan serta wawancara yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Wawancara
terkait dengan Bapak Maik sebagai takmir Masjid Istiqomah dan Bapak Tentrem
sebagai muadzin Masjid Istiqomah. Masjid ini memiliki keunikan serta daya tarik
yang luar biasa. Berdasarkan informasi yang saya temukan di tempat bahwa masjid
ini memang masih dalam tahap renovasi dengan empat lantai dibangun sekaligus.
Secara fisik memang masih berupa tiang pondasi, serta semen yang belum selesai
dihaluskan.
Akan tetapi, jika melihat jamaah pada
waktu sholat dan masyarakat yang menghadiri setiap kegiatan yang dilaksanakan
masjid ini memang disini sangat luar biasa. Dari pondok pesantren, masyarakat
yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, serta pemuda selain anak-anak pondok.
Belum lagi, setiap pagi, siang, maupun sore hari, tempat ini diramaikan dengan
adik-adik Madrasah Diniyah. Dan setiap malam diramaikan dengan adanya kegiatan
seperti pembacaan bersama Sholawat Nariyah, Sholawat Albar Janji, tahlilan, dan
sebagainya.
Memang masyarakat di sekitar Masjid
Istiqomah masih memegang erat ajaran-ajaran berupa ajaran tasawuf. Yang dalam
kehidupan sosial agamanya juga masih memegang erat “Budaya Islam Jawa”.
Alasannya, kita memang masjid ini selain dari lokasinya yang dekat dengan
keraton, dan memang asal-usul dari masyarakat daerah tersebut masih memiliki
keterikatan dengan keraton-keraton lain, seperti Brawijaya. Selain itu, masyarakat ini menggunakan Islam
Arab, yang melebur bersama dengan adat-istiadat orang-orang Jawa pada zaman dahulu,
seperti pada masa Walisong dalam berdakwah. Orang-orang di Jawa akan lebih
mudah menerima Islam tanpa paksaan, melalui agama Islam Arab yang melebur pada
Islam di Jawa. Jadi, tidak untuk pemahaman agama Islam Arab yang kemudian di
Jawa kan.
