Devi
Laras Wijayani / 175231116 /
Perbankan Syariah 2C
Perbankan Syariah 2C
Beberapa pekan yang lalu dosen kami
yang bernama M. Endy Saputra memberikan beberapa silabus yang salah satunya
ber-live in di Pondok Pesantren dengan
kriteria ponpes tersebut terdapat pembelajaran “Kitab Kuning”. Kami diberikan
waktu tiga minggu untuk memenuhi tugas ini. Kami diminta untuk mengamati
bagaimana studi Islam klasik yang dapat kita lihat dari penyampaian
pembelajaran kitab kuning, kemudian melihat realitas yang muncul, baik sesuatu
yang unik ataupun menarik untuk diperbincangkan.
Langkah pertama yang kami ambil pada
waktu itu, menentukan pondok pesantren mana yang bertempat di wilayah Surakarta
atau Karanganyar. Akan tetapi, disini kami lebih tertarik pada pondok pesantren
di Karanganyar, tempat yang besar dan megah, namun sulit untuk ditaklukan.
Misalnya, di Isy Karima di Karangpandan, Karanganyar. Tepat pada tanggal 1
Maret pukul 07.00 WIB, kami memulai perjalanan kami, bermula di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam, Institus Agama Islam Negeri Surakarta.
Perjalanan kami ternyata tidak
berjalan dengan mulus, dipertengah perjalanan kami baru mendapatkan informasi
bahwasanya di Ponpes Isy Karima tidak mempelajari kitab kuning. Kitab kuning
adalah sebuah kitab dalam pendidikan agama Islam yang merujuk kepada kitab-kitab
tradisional, berisi pelajaran-pelajaran agama Islam yang diajarkan pada
pondok-pondok pesantren, mulai dari fiqh, aqidah, akhlak/tasawuf, tata bahasa
Arab, hadis, tafsir dan ‘ulumul Qur’an.
Kami berhenti di Gerbang 27
Karanganyar, mencari informasi tentang pondok pesantren lain. Sumber utama saya
pada waktu itu adalah senior saya yang tergabung dalam salah satu organisasi
Islam. Pertama, beliau menyarankan di Ponpes Singoludiro yang bertempatan di perbatasan
Surakarta dan Sukoharjo; kedua, beliau menyarankan di Ponpes putri Al-Insaf di Mojosongo,
Surakarta; dan saran ketiga, di Ponpes putri Ta’mirul Islam, di Jalan KH
Samanhudi No. 3, Surakarta.
Saya bersama sepuluh orang kawan
saya, menyusuri jalan dari Gerbang 27 Karanganyar menuju Kota Surakarta
melewati pinggir kota bagian timur menuju ke arah barat. Kami menyusuri pusat
Kota Surakarta, sepanjang jalan yang ramai dengan kendaraan dan bus kota.
Tempat yang nyaman untuk di tinggali karena dekat dengan segala fasilitas dan
transportasi. Yang jaraknya dari kampus Institus Agama Islam Negeri Surakarta
sekitar 7 km. Kemudian, kami ke arah selatan menyebrangi Jalan Slamet Riyadi
dan sedikit ke arah barat.
Belum sempat kami menemui pimpinan
Pondok Pesantren Ta’mirul Islam. Tetapi, kami sudah dipersilahkan masuk menemui
beberapa santri dan pengurus pondok. Tepat pukul 13.00 WIB, kami diminta untuk
datang kembali ba’da Asar, karena pimpinan pondok sedang istirahat pada jam-jam
tertentu setiap harinya. Alhasil, kami kembali sebelum menemui pimpinan pondok,
tetapi kami diminta untuk menghubungi beliau langsung dengan maksud dan tujuan
kami datang ke ponpes tersebut.
Pada Selasa, 13 Maret 2018 saya dan
lima kawan saya kembali ke pondok pesantren tersebut. Saya kembali bersama
dengan lima kawan saya, karena satu pondok pesantren untuk sepuluh orang
tidaklah efektif dan konon akan mempersempit sudut pandang observasi kami. Kami
berangkat sekitar pukul 2 siang, dan tiba sebelum Ashar. Beberapa waktu
kemudian, kami memberanikan diri untuk masuk, dan mencoba memulai pembicaraan
dengan salah satu santi. Pakaian yang digunakan masih mengenakan pakaian
layaknya Sekolah Menengah Atas dengan warna putih dan abu-abu.
Kami memulainya dengan
memperkenalkan diri kami, asal kami serta tujuan kami yakni untuk bertemu
dengan pimpinan pondok. Beliau telah memberikan ijin kepada kami untuk
melaksanakan observasi di pondok pesantren mengenai kehidupan serta
pembelajaran kitab kuning. Tetapi, setelah santri tersebut kembali, yang
sebelumnya meminta untuk menunggu. Santri tersebut memberitahu bahwa pimpinan
pondok masih dalam ruangan istirahat, akan keluar apabila hendak ke Masjid
untuk melaksanakan sholat Ashar, sehingga kami diminta untuk kembali lagi ba’da
Ashar.
Sekitar pukul 15.45 WIB ada seorang
penjaga pondok yang memberitahu bahwa Pak Halim baru saja selesai sholat Ashar
di Masjid, sebentar lagi akan pulang. Jadi, kami diminta untuk ke pondok
pesantren putri untuk menemui Pak Halim. Setelah sekitar 5 menit menunggu, kami
bertemu dan beliau sudah paham kami mahasiswi yang berasal dari Institut Agama
Islam Negeri Surakarta, yang hendak mengadakan observasi di pondok pesantren
yang beliau kira hanya ada satu orang saja yang melakukan penelitian.
Kami diminta menuju ke pendopo yang
letaknya di samping pondok di bawah mushola. Jadi, mushola putri di pondok
pesantren ini berada di lantai dua. Yang letaknya di ruangan bagian depan,
dindingnya sederhana seperti sekolah-sekolah di wilayah pedalaman, ketika malam
suasananya sangat ramai dan tentram. Semua santri disini ramah, dan saling
menghargai baik antar santri maupun orang-orang pendatang baru. Tempatnya bertingkat
dan kanan kiri tidak ada jendela, jika dipandang mungkin akan terasa sumpek dan
gerah.
Akan tetapi, jika masuk ke dalam
pendopo tersebut, kondisinya lembab, dingin, walaupun tidak ada kipas atau AC
kami merasa betah berada disana. Suasana tenang, walaupun diluar ada sedikit
keramaian, karena bertepatan pada jam makan santri. Kami diminta untuk menunggu
ustadzah yang akan membimbing kami selama di pondok pesantren, menunjukan
tempat kami beristirahat, dan mengatur jatah makan kami selama berada di pondok
pesantren.
Pada Minggu, 18 Maret 2018 kami
memulai observasi tepat pukul 09.00 WIB. Beberapa waktu kemudian kami menemui
santri dan bermaksud ingin bertemu dengan Ustadzah Lutfiyyah selaku pengasuh
santri di pondok pesantren ini. Setelahnya, saya beserta kawan lain diantarkan
ke ruang pengasuhan untuk pengarahan lebih lanjut mengenai administrasi, kamar
tidur, tempat untuk MCK, dan beberapa kegiatan yang akan kami ikuti selama di
pondok pesantren. Bahkan, kami dipersilahkan mengikuti salah satu Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) dan Ekstrakurikuler Muhadarah atau pembacaan pidato oleh
santri.
Kami diantarkan di kamar tamu tempat
istirahat kami, setelahnya kami ditawarkan untuk istirahat atau mengikuti KBM
agar tahu bagaimana pembelajaran di pondok pesantren. Kebetulan mata pelajaran
yang akan diajarkan adalah Fiqh, tetapi menggunakan Bahasa Arab (Fiqh-Arab). Tetapi,
karena di dalam kelas ada kami, jadi penggunaan Ustadzah saat mengajar
menggunakan Bahasa Arab dan diselingi Bahasa Indonesia. Menerangkan mengenai
“Istihad” seorang wanita dan ketentuan-ketentuannya.
Istihad yaitu darah yang keluar
bukan karena haid tetapi karena penyakit sehingga wanita tersebut wajib
menjalankan ibadah seperti wanita suci, istihad keluar setelah hari ke 15 atau
dapat dihitung sesuai kebiasaan. Ada beberapa pihak yang berpendapat mengenai
perbedaan waktu mandi wajib setelah haid. Pada pendapat pertama menjelaskan
bahwa mereka cukup mandi satu kali, tetapi setiap hendak sholat wajib untuk
wudhu; pendapat lain menyatakan tidak harus berwudhu sebelum sholat (sunnah)
atau lebih baik wudhu.
Pendapat kedua berpendapat mengenai
ketentuan mandi wajib seorang wanita setelah haid yaitu melaksanakan mandi
wajib diakhirkan pada waktu dhuhur dan di awal ashar artinya sholat dhuhur dan
ashar di jamak. Kemudian, melaksanakan mandi wajib di akhir maghrib dan di awal
isya’ artinya sholat maghrib dan isya’ di jamak. Dan melaksanakan mandi wajib
ketika hendak melaksanakan sholat subuh.
Pendapat ketiga menyatakan seorang
wanita melaksanakan mandi wajib sehari sekali, dalam pendapat ini tidak
menjelaskan pembatasan waktu atau dapat dilaksanakan kapanpun. Dan pendapat
terakhir yaitu setiap sholat harus mandi wajib artinya dalam satu hari mereka
melaksanakan mandi wajib sebanyak tiga kali. Dari keempat pendapat diatas, yang
paling sering digunakan adalah pendapat pertama. Akan tetapi, meskipun pendapat
ke dua, ke tiga dan ke empat jarang diterapkan, perbedaan tersebut telah
disepakati kesahihannya.
Pembelajaran dalam kelas
dilaksanakan menggunakan tiga bahasa yakni bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Indonesia. Kelas tersebut sangat aktif, ramai, memperhatikan, serius
tapi menyenangkan. Dalam kesehariannya, penggunaan bahasa daerah merupakan
pelanggaran berat. Setiap hari Minggu, terdapat ekstrakurikuler muhadoroh atau
latihan pidato santri yang di latih oleh para pengurus OSTI (Osis Santri).
Penggunaan bahasa setiap minggunya terjadwal antara bahasa Arab, Inggris dan
Indonesia.
Pondok Pesantren ini merupakan
pondok pesantren modern yaitu Pondok Pesantren Ta’mirul Islam yang lokasinya di
Jalan K.H Samanhudi No 3 Surakarta. Lokasinya di tengah Kota Solo, wilayahnya
macet karena wilayah ini memang bukan Jalan Raya utama, dan lebar jalan ini lebih
sempit apabila dibandingkan dengan Jalan Slamet Riyadi yang sekarang hanya di
lalui pengendara untuk arah barat menuju ke selatan. Tidak ada tempat untuk
pejalan kaki, sehingga mereka pejalan kaki murni berjalan di area sepeda motor.
Pondok Pesantren Ta’mirul Islam ini menerima
santri dari kelas 1, 2 dan 3 (SMP) hingga kelas 4 dan 5 (SMA). Biasanya siswa
kelas 6 (SMA) sudah mulai ujian mengajar. Di kelas 3 SMP masih ada Ujian Nasional,
ijazahnya dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan di luar pondok.
Sedangkan untuk kelas 6 (SMA) sudah tidak ada Ujian Nasional, ijazah dari ujian
mengajar tersebut juga bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan di semua
instansi karena sudah di akui negara.
Lulusan dari Ponpes Ta’mirul Islam
Surakarta banyak yang melanjutkan di luar negeri, ataupun di UNS atau di IAIN
Surakarta. Beberapa ekstrakurikuler yang menggelitik perut yaitu pelatihan bagi
santri yang ingin menjadi pembina pramuka, mereka harus mampu merawat itik dari
kecil hingga satu bulan lamanya, dan apabila dari itik-itik tersebut ada yang
mati, maka akan diganti dengan itik baru dan diberi waktu sampai tepat satu
bulan mereka dapat merawat itik-itik tersebut.
Pelajarannya disini adalah sebelum
mereka menjadi pembina pramuka untuk adik-adik santri baru, merawat itik disini
pula merupakan bentuk pelatihan. Mengenai cara mereka mengatur barisan
itik-itik, memberinya makan sehari-harinya, merawatnya, menjaga agar tetap
hidup minimal untuk hari ini, serta tidak memiliki sikap pantang menyerah.
Pelatihan ini juga dapat melatih kesabaran pembina pramuka sebelum mereka
benar-benar terjun dalam dunia kepramukaan.
Sebelum mengikuti acara selanjutnya,
kami berniat memberikan kenang-kenangan untuk pondok pesantren yang telah
memberikan kami ruang untuk berinteraksi dan mengenali kehidupan di ponpes
tersebut. Kami meminta ijin kepada pengasuh pondok untuk mencari makan siang,
walaupun sebetulnya kami ingin memberikan barang sebagai bentuk rasa terima
kasih kami. Sekitar pukul 13.00 WIB, setelah melaksanakan sholat dhuhur, kami
pergi keluar pondok.
Kemudian, kami kembali ke pondok
sekitar puluk 14.00 WIB yang telah disambut oleh adik-adik santri yang akan
melaksanakan muhadarah. Mohadarah dilaksanakan ba’da sholat dhuhur, dan setelah
jam makan siang santri. Biasanya para santri berkumpul di ruang kelas yang
dipimpin oleh kakak kelas mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kepercayaan
diri santri dan sebagai pelatihan supaya santri dapat berbicara di depan umum
dengan cara yang benar dan baik.
Kegiatan tersebut berlangsung
sekitar satu jam dengan penampilan para santri yang sangat lantang, sekan-akan
mereka benar-benar mepersembahkan untuk kami. Latihan pidato tersebut dimulai
dari dua orang santri yang pada skenario sedang membuka dan membawakan acara
tersebut. Kemudian memanggil satu persatu santri untuk membawakan hasil belajar
mereka, ada yang menyajikan: tentang bagaimana seseorang yang hendak membacakan
ayat suci Al-Qur’an; memberikan tausiyah yang disajikan dua santri atau lebih.
Kegiatan tersebut berakhir ditandai
dengan permintaan salah satu pembina untuk mempersilahkan kami memberikan
komentar. Akan tetapi, memang tidak ada yang di perlu diucapkan selain mereka
benar-benar menakjubkan. Seorang siswi Sekolah Menengah tetapi telah memiliki
sikap percaya diri dan suara yang sangat lantang yang berpidato dengan sangat
lantang, mereka tidak hanya berpidato dalam bahasa Indonesia, akan tetapi dalam
beberapa bahasa seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris, hanya saja terjadwal
setiap minggunya.
Setelah selesai muhadarah, kawan-kawan
melaksanakan sholat ashar dan dilanjutkan dengan MCK dan makan malam sampai jam
17.30 WIB. Karenanya setelah ada sholat maghrib dan tausiyah di masjid. Setelah
selesai keduanya, kami diantarkan ke tempat lain, yakni tempat pembelajaran
kitab kuning. Kitab kuning ini diajarkan kepada sebagian besar warga di sekitar
pondok dan dipersilahkan pula apabila ada santri-santri pondok yang inin
mempelajari kitab kuning tersebut.
Pembelajaran menggunakan campuran antara
bahasa Jawa dan Indonesia, yang dibacakan bahasa Arabnya kemudian alasan
mengapa dibaca seperti itu. Kemudian, untuk memperjelas diberikan contoh serta diartikan
satu kata demi kata. Pembelajaran ini bersifat secara langsung oleh seorang
Kyai dan apabila dalam penjelasannya tidak paham dapat dengan langsung
ditandakan. Dan beliau akan menjawab secara detail mengenai
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
Antara santri putra dan santri putri
dipisahkan yakni diantara dua ruangan yang dibatasi salah satu tembok dengan
pintu di tengah-tengah mereka, sebagai penghubung antara Kyai dan santri putri.
Kemudian, setelah selesai pembelajaran dibuka kembali bagi santri atau warga
yang ingin bertanya. Kyai tersebut akan menjawab dengan sangat santun, beliau
sudah setengah baya, dan menggunakan kaca mata serta lampu sekitar 5 watt
sebagai alat bantu beliau membaca Kitab Kuning tersebut.
Warga maupun santri yang berminat
mengikuti pembelajaran kitab kuning rata-rata adalah orang yang sudah tua atau
dewasa, mereka berinteraksi menggunakan bahasa Jawa. Dan beberapa warga yang
sering melontarkan pertanyaan kebanyakan dari kalangan priyayi atau laki-laki.
Sang Kyai menjelaskan dengan menggunakan lafal-lafal tertentu yang kerap
dinotasikan dengan huruf vokal yang bergantian sebanyak tiga kali. Seperti: hanaka-hanuka-hanika.
Bahkan, beberapa warga yang bertanya
tidak puas dengan satu jawaban saja, mereka biasanya menanggapi atau bisa
sampai adanya perdebatan ringan. Biasanya perdebatan tersebut malah menambah
keakraban antara penanya atau warga sekitar dengan Kyai melalui seorang asisten
dari Kyai yang membantu proses tanya jawab. Kekaraban tersebut karena adanya
candaan baik dari warga atau dari moderator yang mempersilahkan penanya
mengangkat suara.
Dalam penerjemahan menggunakan
bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, terkadang pula disisipi dengan bacaan yang
dilagukan oleh Kyai. Di dalam Kitab Kuning sendiri terdapat bacaan tanpa
harokat atau arab gundul dan bacaan yang berharokat. Bacaan berharokat biasanya
dibacakan secara bersama-sama ketika hendak mengakhiri pembelajaran kitab
kuning. Dalam satu kali pertemuan pembacaan Kitab Kuning oleh warga dapat
memakan dari 7 hingga 8 halaman.
Kitab Kuning tersebut apabila
diperjualbelikan dapat mencapai harga Rp. 350.000,00 dalam kondisi yang masih
baru. Akan tetapi, ketika pembelajaran warga atau santri dapat meminjam kitab
tersebut kepada pengurus. Orang-orang duduk di kursi, diam mendengarkan pembacaan
proses nyimak kitab kuning. Suasana hening karena dilaksanakan pada malah hari
dan bertempatan di ruangan yang terkesan jarang digunakan dalam kesehariannya.
Setelah selesai pembelajaran, kami
kembali ke asrama bersama dengan pengasuh kami. Kami mengucapkan sangat
berterima kasih kepada para pengurus, tetapi sebelumnya kami kembali ke kamar
tamu untuk membersihkan ruangan dan mengemasi barang-barang kami. Setelahnya
kami berpamitan di ruang pengasuhan, dan memberikan sedikit kenang-kenangan
untuk pondok pesantren Ta’mirul Islam berupa Al-Qura’an yang kami bungkus
dengan kertas bermotif batik.
Semoga tulisan yang saya bagikan pada kesempatan kali ini sangat bermanfaat bagi pembaca. Pondok pesantren modern ternyata lebih memberikan dampak yang berpengaruh seperti santri pada pondok modern dalam kesehariannya menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sedangkan, bahasa daerah yang digunakan dalam keseharian anak-anak santri merupakan salah satu pelanggaran berat. Selain itu, pondok pesantren ini dalam mengonsumsi air minum, lebih mengambil air minum yang langsung dari sumber mata air.

