Senin, 23 Oktober 2017

Tidak Ada Jalan Buntu Untuk Menuju Kesuksesan



            Dalam situasi sekarang ini kita sebagai mahasiswa sering kali dihadapkan oleh berbagai masalah, terutama bagi mahasiswa baru. Entah dari dalam diri mereka sendiri, dari orang-orang sekitar, maupun lingkungan tempat mereka berada. Salah satunya yang akan saya bahas saat ini yaitu problematika seorang mahasiswa baru atau perasaan dilema ketika ia harus melanjutkan studinya di luar kota, yang harus berpisah dengan keluarganya. Sikap utama yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa baru yaitu, pertama adalah menjadi mahasiswa yang mandiri. Dimana mental disini sangat diperlukan, sikap diri maupun gaya hidup juga diperlukan. Beberapa yang akan saya sampaikan mungkin merupakan gabungan dari materi dan nasihat yang disampaikan oleh Bapak Dr. H Ahmad Umar, M. A selaku Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan. Dengan tema “Meningkatkan Mutu Peran dan Kontribusi Pendidikan Islam Bagi Masa Depan Pembangunan Bangsa”.

            Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh mahasiswa yaitu mereka dituntut untuk menjadi pribadi yang mandiri, smart, peka terhadap keadaan sekitar dan yang paling penting adalah selalu taat dan meminta doa restu kepada orang tua. Dalam keadaan apapun, doa restu dari kedua orang tua adalah hal yang paling mujarab diantara segala doa dan usaha yang telah kita lakukan. Walaupun kita sedang tidak tinggal bersama, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk selalu meminta restu dan setidaknya memberi sedikit kabar kepada orang tua. 

            Kemudian, menjadi mahasiswa yang smart, aktif, pandai, cerdas dapat disandang oleh mahasiswa bari berbagai golongan. Salah satu hal yang paling menonjol adalah ketidak mampuan seseorang tidak menutup atau tidak membatasi pengetahuan seseorang. Ilmu tidak hanya dapat dicari dari pengalaman-pengalam yang bergengsi, komunitas-komunitas yang elite, hobi-hobi yang berkelas. Semua itu dapat di peroleh dari pengalaman-pengalaman yang sederhana, mengikuti berbagai pergerakan mahasiswa, menjadi mahasiswa berprestasi baik akademik maupun non akademik.

            Menghindari sikap buruk dari mahasiswa yang tinggal jauh bersama orang tua. Permasalahan yang paling utama yakni sikap boros mahasiswa, perasaan tidak mudah puas yang menyebabkan mereka membeli barang-barang yang tidak menjadi prioritas. Sebaiknya sebagai mahasiswa yang ideal dan mampu mengerti kondisi entah dari kalangan orang mampu maupun tidak. Hendaknya dapat memanfaatkan uang yang ia peroleh bulanannya, bukan hanya untuk berfoya-foya, tetapi hendaknya digunakan untuk hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.

            Tetapi ada satu hal yang tidak dapat lepas dari sikap mahasiswa masa kini. Walaupun mereka mengikuti berbagai jenis kegiatan yang mungkin menguras otak dan tenaga. Mahasiswa tetap dituntut untuk selalu rajin menjalankan ibadahnya, terlebih ketika ada waktu luang sebelum berangkat ke kampus yakni melaksanakan sholat Dhuha dua rekaat atau empat rekaan dan sholat tahajud di malam hari.

            Nah, dari sini kita dapat menyimpulkan. Sebetulnya kesuksesan tidak dilihat dari mana dia dilahirkan atau dimana tempat dia meneruskan pendidikan atau dimana dia bekerja. Tetapi kesuksesan dapat diperoleh dalam diri masing-masing induvidu. Kepuasan dapat diperoleh dari diri sendiri. Orang lain memang hanya dapat mengomentari, tetapi kepuasan dan perasaan bangga hanya dapat timbul dari dalam diri kita sendiri. Hal lain yang mungkin terjadi, ketika kita mampu membawa pengaruh positif untuk orang-orang di sekitar kita. Tanpa memandang darimana kita, itu sudah dikategorikan dalam hal sukses.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Cerpen berjudul "HAYATI" by L. Wijayani




            Suara debur pasir di tepi pantai terdengar begitu jelas siang itu diselimuti oleh ombak dan angin yang perlahan menghela nafas ini berpaku pada satu tujuan, ada seorang wanita cantik jelita ku lihat dari pojok perbatasan pantai entah sedang apa di tepi sana, sendiri. Ku pandanginya selalu ku lihat di sekelilingnya tak ada seorangpun yang menemani, wanita cantik jelita, anggun rupanya, ku lihat sedang menahan kesedihan ketika aku mendekatinya, dekat dan semakin dekat. Rupanya dia sedang menangis. Ku bertanya pada gadis itu.

            “Hai.. apa yang Kau lakukan di sini?” Walaupun sungguh aku tahu dia sedang menangis dan aku mencoba untuk sedikit menegurnya, ku harap ini sedikit menghilangkan kesedihannya. Tetapi, dia hanya sedikit menengok ke arahku tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
            “Aku sering berada di sini, setiap kali Aku di sini Aku selalu ingat dengan seseorang yang pertama kali membuat Aku jatuh hati. Fikiranku selalu berantakan setiap kali Aku menginjakkan kakiku di sini, namun takdir selalu saja menuntunku kemari jika Aku rindu.” Sambungku kembali dengan tujuan yang sama agar gadis itu tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Namun dia masih diam, dan lucunya dia malah pergi meninggalkan aku sambil berlari. Sepertinya memang dia sedang ingin sendiri, atau mungkin aku yang terlalu ingin ikut campur dengan urusannya.
            “Baiklah. Waktu sudah hampir senja, Aku enggan berlama-lama di sini, karena akan semakin mengoyak-oyak fikiranku dan akan semakin dalam aku mengingat Dia. Aku akan pulang dan melanjutkan tugas kuliahku yang belum terselesaikan.” Gumamku dalam hati, yang tak memperdulikan lagi tangis gadis itu.
***
            “Hey.. Rein? Tumben sudah pulang?” tanya ibuku ketika aku hendak menaruh sepedaku yang biasanya tak melihatku setiap sore.
            “Iya Ma. Banyak tugas kuliah nih. Yaudah ya Ma, Rein masuk dulu.” jawabku singkat, dan langsung saja aku memasuki ruangan penuh bisu yang akan membuatku menemukan inovasi-inovasi baru. Tapi ibuku tiba-tiba saja bersontak.
            “Besuk libur kan? Temani Mama bertemu dengan teman Mama ke Semarang ya, Rein.” sambung ibuku yang mengajak memintaku memenuhi permohonannya.
            “Halah, Ma. Rein mau beristirahat. Satu hari saja, penat juga. Aku rindu dengan rumahku tersayang. Jarang tak berlama-lama di rumah ini rasanya Aku rindu sekali.” sambungku sesekali menggoda dan mencari alasan.
            “Kau ini.. Kau bilang kalau Kau sedang penat. Baiklah ya, Kau ikut dengan Mama, besuk.” sontak mamaku kembali sambil tertawa kecil.
            “Hmm.. taulah Ma.” akupun langsung pergi memasuki tempat menyepiku.
            Di sekejap waktu, aku menitihkan waktuku sesering kali setiap hujan mulai reda di sore menjelang petang. Aku merindukan saat-saat itu. Kenapa? Karena saat itu hati ini berbicara entah mengapa kemana dan bersama siapa, entah menari menyanyi ataupun sendiri. Selalu saja tak henti mengingatmu. Sesekali aku melihat keluar jendela, senja tiba dan yang terbayang disana hanya kenangan masa lalu ketika kita masih bersama. Entah mungkin suatu saat nanti kau dan aku akan bersama kembali atau kau akan bersama yang lain, ini semua tak habis berhenti hanya sekedar karena lambaian tangan saja. Disini masih terasa jelas kehadiranmu, sosok wanita yang jelita, permata yang ku temukan dulu kini tinggal sinarnya saja yang tak mungkin dapat dengan mudah aku lupa. Walaupun bahkan kini sinarnya hampir mulai redup, kekasihku. Nur Hayati.
***
            Kicauan burung terdengat amat jelas dari luar jendela, pagi hari telah kembali tiba.
            “Hoamsszzz...” terasa segar udara pada pagi hari ini, jendela kamar yang masih tertutup rapat dan suara ketukan pintu berulang-ulang. Udara menghela sela-sela ruang sempit merasuki kamar seisinya. Aku terbangun dengan kutukan yang luar biasa di luar pola pikirku.
            “Ulah siapa pagi-pagi buta sudah mengetuk pintu.” Langkah kaki membabi buta membuka pintu kamar dengan keadaan separuh sadar. Dengan kalimat yang tidak jelas terucap dalam hati. Ternyata muncul dibalik tirai pintu pembatas, bau sedap seperti sesuatu yang teramat ku sukai. Aku mencoba membuka kedua kelopak mata, ternyata ibu sudah memasakkan nasi goreng cumi kesukaanku. Tapi terselip dalam hati aku menduga bahwa ada sesuatu yang beliau inginkan.
            “Rein, cepat Kau bangun, dan mandi setelah itu sarapan nasi goreng cumi kesukaaanmu.”
            “Mama.. Baru saja Rein melangkahkan kaki dari tempat tidur.”
            “Kau ini, sudah ada yang membuatkan sarapan khusus, mestinya kau lebih bersemangat daripada hari-hari biasanya”
            “Memang siapa yang sudah membuatkannya untukku?”
            “Tadi, ada wanita cantik datang kemari menitipkan makanan dan memberi Mama sepotong surat yang dimintanya agar Mama berikan padamu.”
            “Siapa Ma? Apa dia menyebutkan namanya?” sambungku penasaran dengan ucapan Ibu.
            “Mama tak sempat bertanya, karena Dia terlihat buru-buru sekali dengan pakaian rapi, semacam hendak pulang atau pergi jauh, Dia hanya mengatakan bahwa Dia adalah temanmu sewaktu di SMA. Apa kau tahu?”
            “Lalu, bolehkah Rein minta surat yang Dia berikan?” Satu permintaanku, untuk sedikit menghapus rasa penasaran yang datang dengan spontan.
            Setelah aku menerima sepotong surat yang ada dan setelah surat itu berada di kedua jemariku, aku langsung membukanya dengan perasaan penuh tanya bahwa siapakah yang telah mengirimkannya. Seperti mengoyak-oyak perasaan, dan memupuk seribu harapan andai saja kau yang telah mengirimkan surat ini, setelah sekian lama kita tidak bertatap rupa. Akhirnya, aku buka sepotong surat kecil itu.
            “Jadikan aku ruang hampa yang berisikan sunyimu dan sunyiku, hingga ditemuilah ruang canggung di dalamnya. Jadikan aku sebagai tetesan air matamu, khalayak embun pagi hingga tiada lagi kata elegi pada dirimu, diri kita. Hingga begitu naif dihadapan cahaya pagi. Waktu yang tersisa berupa sekat-sekat kebahagiaan abadi berpakaian fana dengan sedikit jejak lipstik dikerah bajumu. Waktu yang bernyanyi mengiringi untaian-untaian diksi kala kita enggan berucap, waktu tersimpul senyum. Dalam senja kemudian ku ukir sedemikian abstrak berkordinasi dengan lukisan sederhana di dunia nyata. Pada senja kusimpan bayang-bayang kita dibalik kertas putih bersela tingkah manja merona. Kita kan menjadi aku, menjelma kamu, tanpa dia di dalamnya. Kita kan gagah, dengan tawa senyum sumringah, tanpa ada rasa sayang yang lelah.”
            Aku melepaskan genggamanku terhadap surat itu, goresan pena yang tertempel melukiskan dengan jelas kehadiranmu di sini. Selintas datang dan terucap.
            “Jika Kau menuliskan surat ini, tandanya Kau telah kembali.”
            Tetapi waktu seakan tak ingin berdamai denganku, Ibu sudah terlebih dulu memintaku untuk mengantarkannya pergi. Dan sekarang apalah dayaku, akupun tidak  bisa menolak secara mentah-mentah permintaan beliau hanya karena urusan wanita.
***
            Semerbak harum aroma palsu ku buat-buat hari itu. Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 WIB dan kamipun sampai di Ibukota Semarang. Suasana perkotaan yang maju ditambah dengan banyaknya kendaraan yang melintas menambah kemacatan jalan utama. Dengan sedikit lamunan andai kala itu aku melihatnya datang. Akan ku berikan setangkai mawar putih untuk menebus segala kesilapan yang pernah ku lakukan. Pertanda permintaan maaf yang tulus dari hati. Pasti hari ini aku akan beranjak pergi dari segala lamunan-lamunan tak berguna.
            Aku memasuki bangunan yang cantik bersih dan rapi. Disitu pula aku diperkenalkan dengan sahabat dari ibuku yang konon adalah sabahat pena yang begitu dekat. Beliau adalah pindahan dari Yogyakarta yang memiliki putri kecil yang kini bersekolah di Belanda. Dalam beberapa waktu lalu putri beliau kembali, untuk menemui sahabatnya yang berada di Yogyakarta. Hatiku terdongkrak setelah mendengarkan pernyataannya dan melontarkan pertanyaan.
            “Siapa nama anak Tante?”
            “Hayati”
            “Nur Hayati?”
“Iya. Dia adalah mutiara hati pembawa keberuntungan. Parasnya yang cantik. Dia pula yang telah membeli rumah seindah ini. Kami dulu memanglah dari kalangan yang sederhana. Namun, karena kegigihan dia, keuletan dia, dia tekun dalam belajar hingga pada waktunya dia mendapatkan satu beasiswa, dan dia memutuskan untuk berkuliah di Belanda.”
“Lalu kapan Nur Hayati akan kembali?”
“Mungkin, seusai bertemu dengan pria itu.”
***
            Sehari setelah itu  aku dan ibu kembali ke Yogyakarta. Dengan niat dan tekadku yang begitu bulat dengan penuh keyakinan. Hari ini aku akan bertemu dengan Nur Hayati dimanapun dia berada, pasti akan aku temukan. Aku menghubungi ibundanya menggunakan nomor ponsel yang telah diberikannya waktu itu. Tanpa dia tahu bahwa aku adalah sahabat yang telah dimaksud mutiara hatinya. Aku menanyakan dimanakah putrinya berada, ternyata dia berada di tempat dimana aku bertemu dengan gadis di kala itu ketika di tepi pantai, sendiri yang dengan sengaja pergi meninggalkanku.
Akupun bergegas ke sana, separuh waktu akupun menginjakkan telapak kaki di pantai itu. Kembali ku dengar desiran pasir putih yang anggun berirama dengan nada yang menyejukkan jiwa. Teringat kembali aku padamu. Aku berjalan setapak demi setapak menyusuri tepi-tepi pantai. Ku lihat tak ada warga pribumi yang berkunjung. Kemudian, aku terduduk pada batang pohon yang telah tumbang. Aku memejamkan kedua kelopak mataku sembari menundukkan pandanganku. Meresapi perkataan ibunya kala itu, bahwa dia pergi untuk keluarganya, dan kembali untukku.
“Reinhart?” Suara lihir datang menghampiri, yang lama tak terdengar namun tak asing terucap.
“Ka.. kau?” ucapku dengan nada tersendat.
Tak lama kemudian, muncul senyum simpul diwajahnya sudah lama tak terlihat namun tak asing kupandangi.
“Iya.. aku.”
“Apakah aku sedang bermimpi?”
“Bolehkah aku mencubitmu?” dengan tegas mencoba mencupit lenganku.
“Aduh..” Sontakku.
Tak lama kemudian, aku  memeluknya sebagai pelepas rindu, teramat rindu setelah 4 tahun tidak berjumpa, tidak berkomunikasi, atau menuliskan sepotong surat.
“Aku merindukanmu.”
“Aku lebih merindukanmu. Aku telah lama menunggu kabar darimu. Menanti-nanti alasan mengapa kau pergi tanpa sebab. Aku tidak tau dimana kau tinggal. Aku hanya menjalani hari-hari dengan alasan suatu hari aku akan bertemu denganmu kembali. Dan sekarang...”
Hayati kemudian melepaskan genggamannya.
“Aku pergi untuk, untuk keluargaku dan kembali untukmu.”                  
“Aku senang mendengarnya.”
Mulai saat itulah Hayati kembali menjelaskan mengapa dia pergi tanpa sebab, dan
Rein pun menjelaskan pula bahwa ia pun telah mengetahui buah pencapaian, dan merasa sangat bangga atas jerih payah Hayati. Walaupun tidak ada kabar yang jelas, tidak ada satu orangpun yang dapat menjawab segala pertanyaannya. Namun, tak ada rasa sesal setelah bertemu dengan permata hatinya yang sempat hilang yang akhirnya pasti akan kembali.
Bersambung... 

Surakarta, 2017