Suara debur pasir di tepi pantai
terdengar begitu jelas siang itu diselimuti oleh ombak dan angin yang perlahan
menghela nafas ini berpaku pada satu tujuan, ada seorang wanita cantik jelita ku
lihat dari pojok perbatasan pantai entah sedang apa di tepi sana, sendiri. Ku
pandanginya selalu ku lihat di sekelilingnya tak ada seorangpun yang menemani,
wanita cantik jelita, anggun rupanya, ku lihat sedang menahan kesedihan ketika
aku mendekatinya, dekat dan semakin dekat. Rupanya dia sedang menangis. Ku
bertanya pada gadis itu.
“Hai.. apa yang Kau lakukan di sini?”
Walaupun sungguh aku tahu dia sedang menangis dan aku mencoba untuk sedikit
menegurnya, ku harap ini sedikit menghilangkan kesedihannya. Tetapi, dia hanya sedikit
menengok ke arahku tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
“Aku sering berada di sini, setiap
kali Aku di sini Aku selalu ingat dengan seseorang yang pertama kali membuat Aku
jatuh hati. Fikiranku selalu berantakan setiap kali Aku menginjakkan kakiku di
sini, namun takdir selalu saja menuntunku kemari jika Aku rindu.” Sambungku
kembali dengan tujuan yang sama agar gadis itu tidak terlalu larut dalam
kesedihannya. Namun dia masih diam, dan lucunya dia malah pergi meninggalkan
aku sambil berlari. Sepertinya memang dia sedang ingin sendiri, atau mungkin
aku yang terlalu ingin ikut campur dengan urusannya.
“Baiklah. Waktu sudah hampir senja,
Aku enggan berlama-lama di sini, karena akan semakin mengoyak-oyak fikiranku
dan akan semakin dalam aku mengingat Dia. Aku akan pulang dan melanjutkan tugas
kuliahku yang belum terselesaikan.” Gumamku dalam hati, yang tak memperdulikan lagi
tangis gadis itu.
***
“Hey.. Rein? Tumben sudah pulang?” tanya
ibuku ketika aku hendak menaruh sepedaku yang biasanya tak melihatku setiap
sore.
“Iya Ma. Banyak tugas kuliah nih.
Yaudah ya Ma, Rein masuk dulu.” jawabku singkat, dan langsung saja aku memasuki
ruangan penuh bisu yang akan membuatku menemukan inovasi-inovasi baru. Tapi
ibuku tiba-tiba saja bersontak.
“Besuk libur kan? Temani Mama
bertemu dengan teman Mama ke Semarang ya, Rein.” sambung ibuku yang mengajak
memintaku memenuhi permohonannya.
“Halah, Ma. Rein mau beristirahat.
Satu hari saja, penat juga. Aku rindu dengan rumahku tersayang. Jarang tak
berlama-lama di rumah ini rasanya Aku rindu sekali.” sambungku sesekali
menggoda dan mencari alasan.
“Kau ini.. Kau bilang kalau Kau
sedang penat. Baiklah ya, Kau ikut dengan Mama, besuk.” sontak mamaku kembali
sambil tertawa kecil.
“Hmm.. taulah Ma.” akupun langsung
pergi memasuki tempat menyepiku.
Di sekejap waktu, aku menitihkan
waktuku sesering kali setiap hujan mulai reda di sore menjelang petang. Aku
merindukan saat-saat itu. Kenapa? Karena saat itu hati ini berbicara entah
mengapa kemana dan bersama siapa, entah menari menyanyi ataupun sendiri. Selalu
saja tak henti mengingatmu. Sesekali aku melihat keluar jendela, senja tiba dan
yang terbayang disana hanya kenangan masa lalu ketika kita masih bersama. Entah
mungkin suatu saat nanti kau dan aku akan bersama kembali atau kau akan bersama
yang lain, ini semua tak habis berhenti hanya sekedar karena lambaian tangan
saja. Disini masih terasa jelas kehadiranmu, sosok wanita yang jelita, permata
yang ku temukan dulu kini tinggal sinarnya saja yang tak mungkin dapat dengan
mudah aku lupa. Walaupun bahkan kini sinarnya hampir mulai redup, kekasihku.
Nur Hayati.
***
Kicauan burung terdengat amat jelas
dari luar jendela, pagi hari telah kembali tiba.
“Hoamsszzz...” terasa segar udara
pada pagi hari ini, jendela kamar yang masih tertutup rapat dan suara ketukan
pintu berulang-ulang. Udara menghela sela-sela ruang sempit merasuki kamar
seisinya. Aku terbangun dengan kutukan yang luar biasa di luar pola pikirku.
“Ulah siapa pagi-pagi buta sudah
mengetuk pintu.” Langkah kaki membabi buta membuka pintu kamar dengan keadaan
separuh sadar. Dengan kalimat yang tidak jelas terucap dalam hati. Ternyata
muncul dibalik tirai pintu pembatas, bau sedap seperti sesuatu yang teramat ku
sukai. Aku mencoba membuka kedua kelopak mata, ternyata ibu sudah memasakkan
nasi goreng cumi kesukaanku. Tapi terselip dalam hati aku menduga bahwa ada
sesuatu yang beliau inginkan.
“Rein, cepat Kau bangun, dan mandi
setelah itu sarapan nasi goreng cumi kesukaaanmu.”
“Mama.. Baru saja Rein melangkahkan
kaki dari tempat tidur.”
“Kau ini, sudah ada yang membuatkan sarapan
khusus, mestinya kau lebih bersemangat daripada hari-hari biasanya”
“Memang siapa yang sudah
membuatkannya untukku?”
“Tadi, ada wanita cantik datang kemari
menitipkan makanan dan memberi Mama sepotong surat yang dimintanya agar Mama
berikan padamu.”
“Siapa Ma? Apa dia menyebutkan
namanya?” sambungku penasaran dengan ucapan Ibu.
“Mama tak sempat bertanya, karena
Dia terlihat buru-buru sekali dengan pakaian rapi, semacam hendak pulang atau pergi
jauh, Dia hanya mengatakan bahwa Dia adalah temanmu sewaktu di SMA. Apa kau
tahu?”
“Lalu, bolehkah Rein minta surat
yang Dia berikan?” Satu permintaanku, untuk sedikit menghapus rasa penasaran
yang datang dengan spontan.
Setelah aku menerima sepotong surat
yang ada dan setelah surat itu berada di kedua jemariku, aku langsung
membukanya dengan perasaan penuh tanya bahwa siapakah yang telah
mengirimkannya. Seperti mengoyak-oyak perasaan, dan memupuk seribu harapan
andai saja kau yang telah mengirimkan surat ini, setelah sekian lama kita tidak
bertatap rupa. Akhirnya, aku buka sepotong surat kecil itu.
“Jadikan aku ruang hampa yang
berisikan sunyimu dan sunyiku, hingga ditemuilah ruang canggung di dalamnya.
Jadikan aku sebagai tetesan air matamu, khalayak embun pagi hingga tiada lagi
kata elegi pada dirimu, diri kita. Hingga begitu naif dihadapan cahaya pagi.
Waktu yang tersisa berupa sekat-sekat kebahagiaan abadi berpakaian fana dengan
sedikit jejak lipstik dikerah bajumu. Waktu yang bernyanyi mengiringi
untaian-untaian diksi kala kita enggan berucap, waktu tersimpul senyum. Dalam senja
kemudian ku ukir sedemikian abstrak berkordinasi dengan lukisan sederhana di
dunia nyata. Pada senja kusimpan bayang-bayang kita dibalik kertas putih
bersela tingkah manja merona. Kita kan menjadi aku, menjelma kamu, tanpa dia di
dalamnya. Kita kan gagah, dengan tawa senyum sumringah, tanpa ada rasa sayang
yang lelah.”
Aku melepaskan genggamanku terhadap
surat itu, goresan pena yang tertempel melukiskan dengan jelas kehadiranmu di
sini. Selintas datang dan terucap.
“Jika Kau menuliskan surat ini, tandanya
Kau telah kembali.”
Tetapi waktu seakan tak ingin
berdamai denganku, Ibu sudah terlebih dulu memintaku untuk mengantarkannya
pergi. Dan sekarang apalah dayaku, akupun tidak
bisa menolak secara mentah-mentah permintaan beliau hanya karena urusan
wanita.
***
Semerbak harum aroma palsu ku
buat-buat hari itu. Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 WIB dan kamipun sampai
di Ibukota Semarang. Suasana perkotaan yang maju ditambah dengan banyaknya
kendaraan yang melintas menambah kemacatan jalan utama. Dengan sedikit lamunan
andai kala itu aku melihatnya datang. Akan ku berikan setangkai mawar putih
untuk menebus segala kesilapan yang pernah ku lakukan. Pertanda permintaan maaf
yang tulus dari hati. Pasti hari ini aku akan beranjak pergi dari segala
lamunan-lamunan tak berguna.
Aku memasuki bangunan yang cantik
bersih dan rapi. Disitu pula aku diperkenalkan dengan sahabat dari ibuku yang
konon adalah sabahat pena yang begitu dekat. Beliau adalah pindahan dari Yogyakarta
yang memiliki putri kecil yang kini bersekolah di Belanda. Dalam beberapa waktu
lalu putri beliau kembali, untuk menemui sahabatnya yang berada di Yogyakarta.
Hatiku terdongkrak setelah mendengarkan pernyataannya dan melontarkan
pertanyaan.
“Siapa nama anak Tante?”
“Hayati”
“Nur Hayati?”
“Iya.
Dia adalah mutiara hati pembawa keberuntungan. Parasnya yang cantik. Dia pula
yang telah membeli rumah seindah ini. Kami dulu memanglah dari kalangan yang
sederhana. Namun, karena kegigihan dia, keuletan dia, dia tekun dalam belajar
hingga pada waktunya dia mendapatkan satu beasiswa, dan dia memutuskan untuk
berkuliah di Belanda.”
“Lalu
kapan Nur Hayati akan kembali?”
“Mungkin,
seusai bertemu dengan pria itu.”
***
Sehari setelah itu aku dan ibu kembali ke Yogyakarta. Dengan niat
dan tekadku yang begitu bulat dengan penuh keyakinan. Hari ini aku akan bertemu
dengan Nur Hayati dimanapun dia berada, pasti akan aku temukan. Aku menghubungi
ibundanya menggunakan nomor ponsel yang telah diberikannya waktu itu. Tanpa dia
tahu bahwa aku adalah sahabat yang telah dimaksud mutiara hatinya. Aku
menanyakan dimanakah putrinya berada, ternyata dia berada di tempat dimana aku
bertemu dengan gadis di kala itu ketika di tepi pantai, sendiri yang dengan
sengaja pergi meninggalkanku.
Akupun
bergegas ke sana, separuh waktu akupun menginjakkan telapak kaki di pantai itu.
Kembali ku dengar desiran pasir putih yang anggun berirama dengan nada yang
menyejukkan jiwa. Teringat kembali aku padamu. Aku berjalan setapak demi setapak
menyusuri tepi-tepi pantai. Ku lihat tak ada warga pribumi yang berkunjung.
Kemudian, aku terduduk pada batang pohon yang telah tumbang. Aku memejamkan
kedua kelopak mataku sembari menundukkan pandanganku. Meresapi perkataan ibunya
kala itu, bahwa dia pergi untuk keluarganya, dan kembali untukku.
“Reinhart?”
Suara lihir datang menghampiri, yang lama tak terdengar namun tak asing
terucap.
“Ka..
kau?” ucapku dengan nada tersendat.
Tak
lama kemudian, muncul senyum simpul diwajahnya sudah lama tak terlihat namun
tak asing kupandangi.
“Iya..
aku.”
“Apakah
aku sedang bermimpi?”
“Bolehkah
aku mencubitmu?” dengan tegas mencoba mencupit lenganku.
“Aduh..”
Sontakku.
Tak
lama kemudian, aku memeluknya sebagai
pelepas rindu, teramat rindu setelah 4 tahun tidak berjumpa, tidak
berkomunikasi, atau menuliskan sepotong surat.
“Aku
merindukanmu.”
“Aku
lebih merindukanmu. Aku telah lama menunggu kabar darimu. Menanti-nanti alasan
mengapa kau pergi tanpa sebab. Aku tidak tau dimana kau tinggal. Aku hanya
menjalani hari-hari dengan alasan suatu hari aku akan bertemu denganmu kembali.
Dan sekarang...”
Hayati
kemudian melepaskan genggamannya.
“Aku pergi untuk, untuk keluargaku dan
kembali untukmu.”
“Aku senang mendengarnya.”
Mulai saat itulah Hayati kembali
menjelaskan mengapa dia pergi tanpa sebab, dan
Rein
pun menjelaskan pula bahwa ia pun telah mengetahui buah pencapaian, dan merasa
sangat bangga atas jerih payah Hayati. Walaupun tidak ada kabar yang jelas, tidak
ada satu orangpun yang dapat menjawab segala pertanyaannya. Namun, tak ada rasa
sesal setelah bertemu dengan permata hatinya yang sempat hilang yang akhirnya
pasti akan kembali.
Bersambung...
Surakarta, 2017