Sore itu aku menemukan sebuah cahaya
baru dibenakku ketika aku sedang singgah di pinggir sebuah kota, aku mengikuti
cahaya itu secara perlahan, mengendap – endap karena aku takut semua itu tiba –
tiba menghilang. Tetapi, beberapa waktu kemudian keheningan menyelimuti, tiada
lagi suara endapan telapak kakiku, entah apa yang sedang ada difikiranku saat
itu. Lalu, aku duduk dan ku sangga kepalaku dengan satu telapak tanganku
memandangi hijaunya apa yang ada di depan mataku. Seyogyanya umat manusia
berbahagia serta merta bersuka ria menyambut tahun baru yang hanya tinggal
menghitung separuh putaran jam, tetapi jiwaku memilih tempat lain yang begitu
sunyi. Aku memilih melangkahkan kaki ini ke suatu tempat yang jauh dari
keramaian.
Aku
duduk dibangku buatan petani dipinggir sawah di pojok kota. Ku pejamkan kedua
mataku dan ku panjatkan doa sembari menikmati hembusan angin menusuk – nusuk
rongga dadaku. Aku ingat lagi harapan – harapanku yang belum tercapai dan ku
ingat – ingat kembali apa – apa yang belum sempat aku ucapkan padanya, hingga
sampai akhirnya ku menempati waktu di sisa ruang penghujung tahun ini. Masih
terasa asa yang pernah aku simpan dalam – dalam sejak pertama kali aku dan
dirinya bertemu.
“Aduh...” tiba – tiba daguku terlepas
dari sanggahan kepalaku. Rupanya aku terlalu dalam melamunkan hal itu.
Waktu menunjukkan pukul lima sore,
semakin jelas khayal ini akupun berhenti beralih mendengarkan kicauan serta
melihat burung – burung mengepakkan sayapnya menari diatas awan, seakan ikut
serta menyambut malam tahun baru. Langit sudah mulai berubah menjadi keemasan,
senja mulai menyapa. Namun, ragaku masih saja berdiam sendiri. Entah apa yang
akan aku lakukan dan bersama siapa masih belum terfikir dibenakku untuk
merayakan malam tahun baru. Yang aku siapkan ketika hendak menuju pergantian
tahun adalah doa – doa yang akan aku panjatkan kepada Tuhan.
Ketika senja tiba aku melihatinya
dengan seksama, kemudian aku mencoba meraih dan menggenggamnya dan
teringatkanlah aku padamu. Padamu jua aku menggenggam senja yang terik ini,
indah seperti lokan, sekejap terlihat menyakitkan. Hendak pergi, namun aku
berhasil menyimpannya. Tanpa basa – basi lagi aku beranjak pergi menyusur.
Tetapi, anehnya ketika aku menoreh di belakangku banyak orang yang hendak
mengirimkan senja kepadaku sembari mengangkat tangannya dan berlari – lari
kecil. Adakalanya aku berbalik menoreh,
tetapi yang menjadi tujuanku saat ini adalah kau. Aku ingin memberikan
segenggam senja ini untukmu secepatnya yang di dalamnya terdapat kisah, kisah
lama yang jika boleh kau mengijinkan kepadaku akan selalu aku kenang.
Aku
mengambil senja ini berawal dari jatuh cinta padamu, ketika kamu menuruni
tangga sekolah dan aku berada dibawah. Namun, nyatanya kamu tak melihatku dan
aku terus mencoba untuk tersenyum agar kau sedikit peduli. Lalu, aku mencoba
untuk menanyai tentang kabarmu lewat temanmu, karena aku tahu kau tak akan
pernah menjawab pertanyaan bodoh ini. Kemudian aku mencoba mengetahui
keseharianmu, sebab aku mengerti sulitnya untuk mengajakmu pergi. Tepat tiga
tahun ini aku mengagumimu. Aku ingat kembali masih ada apa – apa yang belum
sempat aku ucapkan padamu, gadis yang jelita. Entah karena aku tak cukup banyak
punya nyali atau aku takut bila kau semakin menjauhiku.
Terimalah segenggam senja ini,
karena aku yakin bukan kesedihan yang akan kau dapat. Kau hanya akan mengerti
kisah hidupmu, dibelakangmu masih ada seorang pria yang akan selalu menolongmu
ketika kamu merasa kesulitan, akan senantiasa membuat raut wajahmu bersinar pernuh
gembira, akan mengobati luka walaupun tak seutuhnya. Ku harap kau berdamai
dengan rasa ini, aku hanya ingin kau tau. Bahwa kau jangan bersedih jikalau ada
seorang pria yang membuatmu bersedih. Ada aku di belakangmu yang selalu ada
untukmu.
Aku
memberikanmu segenggam senja ini di dalamnya juga terdapat rindu. Segumpal
rindu yang terselip dalam kisah lama, mencuri sela – sela di ruang itu. Mencoba
mengobati rindu ini sendiri agar tak terlalu sakit terasa. Dan apabila senja
itu pergi mengikuti kisah lama, rindu pasti akan tetap tinggal. Dan apabila kau
juga memiliki rasa rindu untukku, jangan kau simpan sendiri. Katakanlah
kepadaku, datanglah kemari, jangan takut karena aku adalah rumah yang selalu
membuka pintu untuk gadis sepertimu.
Di
dalam rindu itu terselip rasa cinta, rasa kasih sayang. Apabila kau tau
percaya, coba kau rombak apa yang terselip dalam cinta. Disana ada nadiku,
detak jantungku, namamu. Jantungku terus berdebar kencang setiap kali aku
berada di dekatmu. Terlebih ketika kau memandangku walaupun hanya seiring
hempasan angin. Akan tetapi, ada kalanya aku berterima kasih kepada angin.
Karenanya nadi, jantung, cinta, kasih sayang dan rindu sampai kepadamu jua melalui
segenggam senja yang terbungkus amplop warna kemerah – merahan. Yang melambangkan
hati yang telah terpenuhi oleh cinta padamu. Namun terdapat gambar separuh hati
disana, apabila kau menyambungkan dengan melukis separuh hatinya. Itu tandanya
kau mau untuk menemaniku menghabiskan sisa tahun ini bersamaku.
Aku
hendak membawamu kesuatu tempat yang menawan. Ku yakin kau akan senang,
walaupun sesekali kau harus mengatakan bahawa.
“Kenapa
kita harus melewati tempat ini? Apakah tiada jalan lain yang lebih baik!” dan
tentu saja akan aku jawab.
"Tentu
saja tidak.” Agar sesekali membuatmu penasaran.
Aku
hendak membawamu pergi, dengan menapaki mungkin beribu rintangan yang
menghadang, meskipun harus melewati sebuah gudang mengerikan, membawamu
menyusuri terowongan, bertemu dengan para pekerja lemburan di suatu pabrik,
hingga kita berada dibawah jembatan yang aroma sekitarnya berbau busuk, harus
melewati genangan air dengan lumpur di beberapa bagian. Namun, percayalah
padaku, aku tak akan mengecewakanmu. Ketika telah sampai kau langsung akan
melihat tempat yang indah, yang banyak dikunjungi orang – orang dengan suara
yang begitu bising akan tetapi bercampur aduk dengan kebahagiaan, ditambah aku
yakin kau pasti akan senang dengan adanya kembang api yang menghiasi awan yang
redup dibawah bintang – bintang. Lalu, kulihat kembali rona wajahmu yang ayu dan
lugu. Rupanya kau telah memandangiku dan tersenyum simpul kepadaku dan sungguh,
senyumanmu sungguh mengobati segumpal rinduku yang dulu kusimpan baik – baik
untukmu.
By
:
Devi
Laras W.
Surakarta, 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar