Selasa, 21 November 2017

Budaya Islam Jawa Menjadi Mayoritas Penduduk Sekitar Keraton Kartasura



Devi Laras Wijayani / Perbankan Syariah 1C / 175231116

            Sekumpulan tulisan dalam lembar ini bertujuan untuk menggali bagaimanakah kehidupan dalam konteks sejarah islam yang berada di sekitar bekas Keraton Kartasura, yang tentunya wilayah ini masih menerapkan trah-trah jawa, baik dari masyarakat maupun karena masih dalam lingkup keraton. Masjid Istiqomah merupakan salah satu masjid yang terletak di sebelah barat makam Keraton Kartasura, letaknya sangat strategis apabila di bandingkan dengan masjid-masjid lain yang berada di sekitar keraton, misalnya Masjid Hastana yang lokasinya terlalu masuk ke dalam permukiman warga.
Jika kita menelik lagi tentang sejarah Masjid Istiqomah, masjid ini berkaitan dengan banyak hal. Bapak Mail (narasumber) sebagai Takmir Masjid Istiqomah merupakan anak dari Bapak Haji Toyib Salim atau kerap disapa dengan nama Mbah Toyib, yang membeli tanah di wilayah tersebut untuk mendirikan Masjid Istiqomah. Dan Bapak Tentrem (narasumber) sebagai muadzin Masjid Istiqomah. Beliau-beliau ini merupakan tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan masjid.

KONDISI FISIK MASJID
            Masjid Istiqomah jika dilihat secara fisik memang belum selesai direnovasi atau masih dalam tahap pembangunan, bahkan masih ada bangunan-bangunan yang berupa tiang, berupa semen yang belum diratakan. Akan tetapi, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini, maupun masyarakat yang partisipasi dalam kegiatan tersebut tidak terbilang sedikit, ada pula masyarakat yang berasal dari luar daerah yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak sedikit pula yang memberikan infak lebih, dimana dana infak tersebut biasanya diputar untuk proses membangun masjid.

KEUNIKAN YANG SELALU MENJADI DAYA TARIK
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Istiqomah merupakan kegiatan rutin serta menjadi daya tarik tersendiri oleh masyarakat yang ada hampir diadakan setiap malam. Kegiatan-kegiatan tersebut tujuannya tidak lain senantiasa untuk menanam saham akhirat dengan ajaran-ajaran masih mengangkat kebudayaan Jawa, dan yang kebetulan wilayah masjid ini berdekatan atau masih dalam satu lingkup dengan bekas keraton sehingga masih ada trah-trah dari leluhur yang menggunakan budaya islam pada kehidupan sehari-hari.

TAHUN 1973
Dahulu sebelum didirikan masjid, lokasi ini merupakan kebun bambu dengan kebiasaan warganya menjadikan tempat ini sebagai tempat maksiat yang luar biasa. Berbarengan dengan dakwah yang dilakukan Pak Mail waktu itu, kemudian tanah ini dibeli oleh Mbah Toyib (Ayah dari Pak Mail) dengan tujuan yang secara tidak langsung mengambil alih tempat maksiat mereka dan menjadikannya menjadi tempat ibadah supaya lebih bermanfaat, sekaligus memperbaiki warga di wilayah ini, dan untuk meneruskan dakwah dari Pak Mail yang sebelumnya bertempatan di Darussalam.

PELAKSANAAN SHOLAT
Untuk waktu pelaksanaan sholat berjamaah yang dilakuakan bertepatan di Masjid Istiqomah, pada waktu Subuh adzan dikumandangkan pada pukul 03:50 WIB; pada waktu Dhuhur pukul 11:30 WIB, dan selesai hingga pukul 12:00 WIB; pada waktu Ashar adzan dikumandangkan pada pukul 14:45 WIB; sedangkan pada waktu Maghrib adzan dikumandangkan pukul 17:30 WIB; serta terakhir pada waktu Isya’ adzan dikumandangkan pada pukul 18:50 WIB, yang setiap hari dilakukan oleh Bapak Tentrem (narasumber)

PROSES PEMBANGUNAN MASJID
Masjid ini mulai dibangun empat tahun yang lalu, sejak bulan Mei 2013 yang proses pembangunannya berlangsung hingga sekarang. Proses pembangunan tersebut dilakukan oleh masyarakat secara bergantian, seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar masjid menyumbangkan partisipasi mereka sesuai dengan apa yang mereka miliki, jadi tidak memberatkan antara masing-masing pihak. Pada tanggal 15 Mei 2013 tanah tersebut mulai dipugar, kemudian pada tanggal 26 Juni 2013 yaitu peletakan batu pertama dari Bupati. Peletakan batu pertama tersebut didoakan oleh beberapa Kyai, yang proses pembangunan masjid tersebut masih berjalan sampai sekarang yang yang diperkirakan dalam tahap 50%.
Berkah dari sepanjang pembangunan ini justru diberikan amanah oleh Allah SWT. untuk membeli tanah baru yang akan didirikan Pondok Pesantren. Sekarang tanah tersebut sedang dalam proses pemagaran, pemberian batas-batas untuk Madrasah nanti. Menelik pada zaman dahulu, Madrasah Diniyah sendiri yang berdiri sejak 1985. Proses pembelajaran madrasah ini dilakukan setiap siang, sore, dan malam. Kulikulum yang diajarkan dalam madrasah ini berupa kurikulum pondok. Kurikulum pondok bertujuan supaya masjid dapat dekat dengan masyarakat, pintunya Madrasah Diniyah dimana setiap orang tua pasti memerlukan pembelajaran ini untuk bekal putra-putrinya dalam kehidupan yang akan datang. Kebetulah pada saat ini sudah ada pondoknya, sehingga antara anak-anak pondok dengan adik-adik madrasah diniyah dicampur. Anak pondok tersebut selain belajar sendiri, mereka ikut mengajar adik-adiknya.

KEGIATAN MASJID
Kegiatan-kegiatan rutin yang diagendakan pengurus Masjid Istiqomah hampir setiap malam dilaksanakan. Seperti, pada Malam Jum’at, bada’ Maghrib, yaitu pembacaan Manakib Syaiful Qodir. Kemudian, bada’ Isya’ pada malam Jum’at yaitu pembacaan sholawat Albar Janji yang dilaksanakan oleh ibu-ibu masyarakat beserta anak-anak pondok di masjid secara bersama-sama. Pada malam Sabtu, bada’ Maghrib, yaitu pembacaan Sholawat Nariyah, yang dilakukan oleh masyarakat beserta anak-anak pondok yang dilaksanakan di masjid. Bada’ Isya’, Istigosah rutin. Istigosah merupakan doa-doa dari masyarakat yang dipanjatkan di masjid tersebut secara bersama-sama. Istigsah tersebut dilakukan oleh masyarakat dan pondok menjadi satu di masjid, hal ini dilakukan mulai setelah Isya’ hingga setengan 10.
Malam Ahad, yakni masjid dilakukan kegiatan mukhodaman. Mukhodaman sendiri artinya membacakan Al-Quran secara bersama-sama dengan suara yang merdu. Mukhodaman ini dilakukan oleh anak-anak pondok. Pada malam Senin, kegiatan rutin selanjutnya adalah pembelajaran sholawat Albar Janji yang dilakukan oleh anak-anak pondok. Hari Selasa, pada malam Rabu masjid digunakan untuk pembacaan Tafsir Jalalen yang dilaksanakan oleh anak-anak pondok beserta masyarakat. Pada malam Kamis acara yang diselenggarakan yaitu pembacaan Kitab Tikham. Kitab Tikham tersebut merupakan kitab sepuh yang dibacakan setiap minggunya yang di dalamnya berupa pembelajaran-pembelajaran mengenai taswauf. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat sekitar masjid beserta anak-anak pondok.
Ada pula kegiatan-kegiatan tertentu yang mendatangkan musik jawa yaitu “Laras Madya”. Kegiatan tersebut diagendakan oleh pengurus masjid setiap satu tahun sekali. Laras Madya tersebut isinya berupa pembacaan Serat-Serat Ulangrah. Dalam konteks Jawa tapi teks tersebut merupakan teks yang berasal dari Arab, kandungan maknanya berasal dari ajaran tasawuf, akhlak, berasal dari orang-orang Sufi, tetapi dituangkan dalam Laras Jawa. Jika melihat di artikelnya, akan ditemukan artikel Jawa pula. Bacaannya berupa Mocopat, seperti Dandhanggula, Khinanti, dan sebagainya.
Masyarakat sekitar Masjid Istiqomah pun masih melaksanakan tahlilan, bahkan hampir dilaksanakan setiap malam. Jadi memang masyarakat sekitar masjid ini sangat menjunjung kebiasaan-kebiasaan dari orang-orang pada zaman dahulu. Tahlilan tersebut dilaksanakan setelah sholat Isya’. Dilaksanakan dibeberapa tempat, terkadang hingga di tiga tempat. Setiap satu jam, kemudian dilaksanakan ditempat yang berlainan, begitu terus hingga malam.
Pemuda-pemudi diluar anak-anak pondok yang selalu berpartisipasi dalam kegiatan masjid jika diperkirakan hampir 200 orang. Biasanya berkumpul mulai dari RT I, RT II, RT III. Contohnya, ketika Hari Raya Idhul Adha, seluruh masyarakat masjid baik dari pemuda-pemudi, ibu-ibu, bapak-bapak, maupun dari anak pondok pesantren bekerja bersama untuk mengelola hewan kurban dan proses pembagiannya. Akan tetapi, untuk takmirnya disediakan makan bersama pada waktu Hari Raya Idhul Adha seluruh masyarakat yang ada disekitaran masjid berkumpul dan berpartisipasi.

KONDISI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT
Dalam berbagai macam perbedaan yang ada di Masjid Istiqomah. Masyarakat sekitar masjid sampai saat ini tidak pernah mengalami konflik yang serius. Seluruh masyarakat berpartisipasi ke masjid. Contohnya dalam bentuk kerja bakti pembangunan masjid, mulai mengecor kemudian menggali pondasi yang kedalam tiang besi hingga lima meter. Lima meter tersebut di gali secara manual dengan linggis dan ditarik dengan tangan. Masyarakat satu dengan yang lainnya bergantian, ada yang memulai pekerjaan ini dari pagi hingga jam 1 malam. Tiang pondasi ini dibuat sebanyak 80 tiang besi pada tiap tiap jaraknya dan dikarenakan masjid ini dibangun dengan empat lantai sekaligus.
 Delapan belas tiang besi tersebut semuanya kedalaman 5 meter. Seluruh proyek pekerjaan masjid ini tidak lain merupakan partisipasi dari masyarakat, yang membantu tanpa terasa dibebani, karena masyarakat yang memiliki uang mereka akan membantu dengan uang, masyarakat yang memiliki semen akan membantu memberi semen, masyarakat yang mempunya besi, mereka akan membantu memberi besi. Seluruh masyarakat bergotong royong, hal tersebut dilakukan sampai sekarang. Di samping bantuan dalam proses pembangunan masjid ini yaitu melalui infak massa yang dilakukan setiap malam Jum’at dari ibu-ibu, mereka mempunyai kotak infak keliling.
Infak keliling tersebut juga diputar melalui pengajian rutin masyarakat yang diselenggarakan setiap Ahad Wage, dimulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB pagi. Diselenggarakan setiap Ahad Wage artinya pengajian tersebut dilaksanakan setiap 36 hari sekali. Nominal infak yang dihasilkan dari pengajian tersebut dapat mencapai 2 juta, akan tetapi terkadang mendapat 1 juta, dan terkadang kurang dari 1 juta. Akan tetapi, jumlah dana yang didapat melalui infak keliling tersebut tentunya sangat membantu untuk proses pembangunan masjid.
 Pengajian Ahad Wage merupakan acara yang dilaksanakan rutin oleh ibu-ibu dan masyarakat, ibu-ibu di sekitaran masjid memiliki inisiatif bagaimana mereka mengagendakan acara tersebut dengan mendapatkan manfaat yang selain dapat dirasakan pribadi melalui pengajian, tentunya juga akan mempermudah dana ikhlas dari masyarakat setempat untuk pemegahan masjid tersebut. Meskipun pengajian tersebut diselenggarakan oleh ibu-ibu sekitar masjid, namun masyarakat yang menghadiri acara pengajian tersebut tidak sedikit. Pengajian ini diikuti oleh bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, remaja, anak-anak pondok yang diperkirakan sekitar 250 sampai 300 orang.
Ada pula agenda yang dilaksanakan ketika menjelang bulan ramadhan, yaitu pada tanggal 18 Syahban atau 17 malam ke 18 Syahban atau Ruwah, pada waktu ini diadakan doa bersama yang dilaksanakan oleh satu wilayah di sekitar masjid. Dari RW 1 hingga RW 3, masyarakat tersebut digabung dengan anak-anak pondok pesantren, mereka bergabung berkumpul di masjid. Kumpulan acara-acara tersebut pertama, ada Sadranan atau Ziarah; kedua, Akhir Usanah; ketiga, Khataman Al-Quran. Acara-acara tersebut dilaksanakan oleh masyarakat setempat beserta dengan anak-anak pondok, pengurus-pengurus masjid yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali.
Jika melihat kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan masjid ini dan bagaimana respon masyarakat sekitar masjid, tidak lain karena cikal bakal pendiri masjid ini. Sehingga menghormati diadakan acara pada setiap tanggal 18 Syawal. Yaitu diadakan acara yang bernama Qol. Qol tersebut merupakan sesepuh pendiri majid ini, Qol tersebut bernama Simbah Haji Toyib Salim atau kerap disapa Mbah Toyib, Ayah dari Pak Mail. Agenda ini dilaksanakan setiap tanggal 18 Syawal yang dihadiri masyarakat di sekitar masjid.

ARAB YANG ADA DI JAWA
Peringatan tujuh hari, seratus hari yang mayoritas masih dilaksanakan oleh masyarakat pedalaman seperti pada zaman Walisongo merupakan budaya Arab yang di bertempatan di Jawa. Peringatan tersebut sudah ada sejak zaman Umar bin Khattab. Bermula pada Islam yang mempengaruhi budaya Jawa atau Islam yang masuk ke dalam adat Jawa, dalam bentuk konteks akhlak, hal ini yang dinamakan tasawuf. Melalui tasawuf, Islam dengan mudah diterima oleh penduduk Jawa, dimana Islam tersebu berkembang dalam konteks Arab yang masih memegang adat istiadat Jawa.
Islam masuk ke Jawa dalam bentuk akhlak, sufi, tasawuf. Datangnya lebih dahulu daripada fikih. Fikihnya tersebut berkembang di Jawa paling akhir atau paling lama. Sehingga, pengaruh pemikiran umat Islam di Jawa yang dipengaruhi oleh Imam Al-Gazali. Sederetan dengan tokoh tersebut kemudian masuk, dan proses Islamisasi di Jawa tersebut melalui tasawuf, kemudian berangkat dengan pola-pola fikih atau pendekatan-pendekatan verbal, hukum. Akan tetapi Islam yang lebih dahulu masuk ke Jawa yaitu ajarannya berupa tasawuf, nilai-nilai akhlak, nilai-nilai Ketuhanan, bukan berupa hukum.
Islam yang masuk ke budaya-budaya lokal yang ada di Pulau Jawa dapat dengan mudah diterima, sehingga terjadi islamisasi secara masif. Sebagai contoh adalah orang-orang Hindu-Budha yang masuk ke dalam agama Islam tanpa ada pengaruh peperangan atau penekanan. Akan tapi, mereka tentunya tertarik terhadap gaya islam, terhadap pendekatan-pendekatan islam yang humanistis, toleran, dan sangat menyentuh hati orang lain. Sehingga, mereka tanpa dirubah maupun dipaksapun akan berubah dengan sendirinya.
Kemudian, datanglah para tuha, tuha itu berupa hukum. Pada intinya, tuha adalah tauhid dan akhlak yang sudah masuk. Melalui hukum tentunya proses tersebut dilakukan dengan cara paksa yang seolah-olah akan terjadi otot-ototan. Kalau tasawuf sentuhannya melalui hati, dan tauhid. Perbedaannya ada pada hukum dan tauhid, semuanya berasal dari Arab, hanya saja karena Islam sudah masuk di ranah Jawa, terkadang orang memberikan makna lain, yaitu berupa penamaan Kejawen.
Sebenarnya mereka kearaban, dan tidak pantas apabila disesuaikan dengan orang-orang Jawa, yang tidak cocok apabila di suruh menggunakan pakaian jubah-jubah, tidak pantas dan bukan hal yang wajar bagi mereka yang terbiasa memakai beskap dari turun temurun. Dan, kebetulan pula di wilayah masjid ini memang trah-trahnya dari kraton-kraton, jadi tidak hanya berasal dari bekas Keraton Kartasura. Karena dari Pak Mail,  Mbah Toyib, hingga ke Brawijaya masih terdapat silsilahnya

REFLEKSI
            Setelah melakukan berbagai observasi pengolahan lapangan serta wawancara yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Wawancara terkait dengan Bapak Maik sebagai takmir Masjid Istiqomah dan Bapak Tentrem sebagai muadzin Masjid Istiqomah. Masjid ini memiliki keunikan serta daya tarik yang luar biasa. Berdasarkan informasi yang saya temukan di tempat bahwa masjid ini memang masih dalam tahap renovasi dengan empat lantai dibangun sekaligus. Secara fisik memang masih berupa tiang pondasi, serta semen yang belum selesai dihaluskan.
Akan tetapi, jika melihat jamaah pada waktu sholat dan masyarakat yang menghadiri setiap kegiatan yang dilaksanakan masjid ini memang disini sangat luar biasa. Dari pondok pesantren, masyarakat yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, serta pemuda selain anak-anak pondok. Belum lagi, setiap pagi, siang, maupun sore hari, tempat ini diramaikan dengan adik-adik Madrasah Diniyah. Dan setiap malam diramaikan dengan adanya kegiatan seperti pembacaan bersama Sholawat Nariyah, Sholawat Albar Janji, tahlilan, dan sebagainya.
Memang masyarakat di sekitar Masjid Istiqomah masih memegang erat ajaran-ajaran berupa ajaran tasawuf. Yang dalam kehidupan sosial agamanya juga masih memegang erat “Budaya Islam Jawa”. Alasannya, kita memang masjid ini selain dari lokasinya yang dekat dengan keraton, dan memang asal-usul dari masyarakat daerah tersebut masih memiliki keterikatan dengan keraton-keraton lain, seperti Brawijaya.  Selain itu, masyarakat ini menggunakan Islam Arab, yang melebur bersama dengan adat-istiadat orang-orang Jawa pada zaman dahulu, seperti pada masa Walisong dalam berdakwah. Orang-orang di Jawa akan lebih mudah menerima Islam tanpa paksaan, melalui agama Islam Arab yang melebur pada Islam di Jawa. Jadi, tidak untuk pemahaman agama Islam Arab yang kemudian di Jawa kan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar