A.
PENGANTAR IDEOLOGI
Ideologi
berasal dari bahasa latin yang terdiri dari dua kata: ideos artinya pemikiran, dan logos
artinya logika, ilmu, pengetahuan. Ideologi merupakan suatu pandangan atau
sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam yang dipunyai dan dipegang oleh suatu
masyarakat tentang bagaimana cara sebaliknya, yaitu secara moral dianggap benar
dan adil, mengatur tingkah laku mereka bersama dalam berbagai segi kehidupan
duniawi mereka. Ideologi juga memiliki arti: konsepsi manusia mengenai politik,
sosial, ekonomi dan kebudayaan untuk diterapkan dalam suatu masyarakat atau
negara.
Ideologi
adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt
de Tracy pada akhir abad ke-18 utnuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Tujuan
utama ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran yang
normatif.
Proses
kelahiran ideologi:
1.
Ideologi lahir dari pemikiran seseorang
melalui cita-cita masyarakat yang diperjuangkan dalam gerakan politikdiakui dan
dirumuskan secara sistematis.
2.
Ideologi berdasarkan alam pikiran
masyarakat ataupun mitos-mitos sehingga mereka dapat tunduk dan meyakini.
3.
Ideologi berdasarkan keyakinan
universal, biasanya lahir diinspirasi oleh spirit agama. Sehingga, ideologi
yang lahir dari suatu keyakinan Iman dan bersifat universal akan hidup secara
permanen tidak akan goyah dan mati.
Dimensi
dan Tahapan Ideologi:
1.
Dimensi realitas, adalah kemampuan
ideologi untuk mencerminkan realitas dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang
dalam masyarakatnya. Karena hanya dari dimensi ini anggota masyarakat akan
merasa bahwa ideologi itu memang miliknya.
2.
Dimensi idealisme, adalah kemampuan
dasar ideologi yang terkandung dalam nilai-nilai dasar ideologi tersebut.
3.
Dimensi fleksibilitas, adalah dimensi
ketiga ini menuntut kemampuan ideologi untuk melandasi dan meneropong perubahan
atas pembaruan masyarakat, sekaligus menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan itu.
Akar
Ideologi dari Tiga Pendekatan Filsafat:
1.
Filsafat Idealisme
Ini
mengedepankan faham rasionalisme dan individualisme, yang dalam kehidupan
berpolitik telah melahirkan ideologi Liberalisme dan Kapitalisme. Pandangan
kehidupan yang berdasarkan ideologi Liberalisme-kapitalisme, melahirkan faham
Sekularisme-Moderat dalam mengatur kehidupan politik-kenegaraan.
2.
Filsafat Materialisme
Ini
mengedepankan faham emosionalisme berupa perjuangan kelas dengan kekerasan dan
kolektivisme, yang dalam kehidupan berpolitik telah melahirkan ideologi
Sosialisme-Komunisme. Ini melahirkan faham dalam membangun kehidupan kenegaraan
dalam konteks hubungan agama dengan
negara adalah dipertentangkan. Pandangan kehidupan yang berdasar
ideologi Sosialisme-Komunisme melahirkan faham Sekularisme-Radikal dalam
mengatur kehidupan berpolitik-kenegaraan.
3.
Filsafat Teologisme
Dalam
faham ini dibagi menjadi dua:
a)
Faham agama yang menempatkan ajaran
Tuhan memegang peran sentral dalam kehidupan politik-kenegaraan, tetapi dalam
konstruk politiknya, menjadikan pemuka agama sebagai tokoh dikultuskan.
b)
Faham agama yang memang menempatkan
ajaran Tuhan sebagai sumber inspirasi, motivasi dan ekspresi. Agama dapat
didialogkan untuk terlibat sebagai wacana sekaligus sumber etika, moral dan
hukum, maka dalam kehidupan politik-kenegaraan itu dapat dikatakan agama
bersifat dinamis, dapat disebut pula sebagai filsafat teologisme-dinamis.
Fungsi
dan Faktor Pendukung Ideologi:
Ideologi
mempunyai beberapa fungsi:
1)
Fungsi Etis, yaitu sebagai panduan dan
sikap serta perilaku kelompok masyarakat dalam kehidupan kenegaraan dan
kebangsaan.
2)
Fungsi Integrasi, yaitu nilai yang
menjadi pengikat suatu bangsa atau masyarakat.
3)
Fungsi Kritis, yaitu sebagai ukuran
nilai yang dapat digunakan untuk melakukan kritik terhadap nilai atau keadaan
tertentu.
4)
Fungsi Praxis, yaitu sebagai acuan dalam
memecahkan masalah-masalah kongkrit.
5)
Fungsi Justifikasi, yaitu ideologi
sebagai nilai pembenar atas suatu tindakan atau kebijakan tertentu yang
dikeluarkan oleh suatu kelompok tertentu.
Menurut
tokoh psyco-analisis Foucault, ideologi menyangkut empat faktor atau hal
penting: 1] Ekonomi sebagai basis, 2] Kelas yang berkuasa, 3] Kekuatan
repressif, 4] Sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran sejati.
Sumber :
Kristeva, M. A., Nur Sayyid Santosa, Sejarah Ideologi Dunia (Yogyakarta: Lentera
Kreasindo, 2015)
Kreasindo, 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar